China Temukan Virus Corona Kelelawar Mirip Virus COVID-19
JAKARTA - Tim ilmuwan China dalam studi terbaru menemukan virus corona kelelawar baru yang berisiko menular dari hewan ke manusia karena menggunakan reseptor manusia yang sama seperti virus COVID-19, lapor harian Hong Kong.
Studi yang dilakukan Laboratorium Guangzhou bersama Akademi Saints Guangzhou, Universitas Wuhan dan dan Institut Virologi Wuhan tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah Cell pada Selasa, South China Morning Post melaporkan.
Dalam laporan tersebut dijelaskan virus corona yang baru ditemukan itu menggunakan reseptor manusia seperti pada virus COVID-19 dan SARS yaitu enzim pengubah angiotensin manusia (ACE2).
Virus tersebut, yang juga disebut HKU5-CoV-2, adalah turunan baru virus corona HKU5 yang ditemukan pada kelelawar pipistrelle Jepang di Hong Kong.
Uji lab mengungkapkan virus tersebut dapat menginfeksi sel manusia dan dan jaringan paru-paru dan usus yang dibudidayakan di laboratorium.
Dilansir ANTARA dari Anadolu, Jumat, 21 Februari, virus itu juga dapat mengikat reseptor ACE2 pada manusia, kelelawar, dan hewan lainnya, sehingga meningkatkan kemungkinan penularan lintas spesies.
Baca juga:
- Warga Ukraina Dipenjara 8 Tahun di Polandia karena Rencana Sabotase Atas Nama Rusia
- Tentara Ukraina di Garis Depan Tolak Perundingan Perdamaian Sepihak Trump-Putin
- Eropa Perlu 250 Miliar Euro per Tahun untuk Investasi Pertahanan Tanpa AS
- Hamas Selidiki Salah Identifikasi Jenazah yang Diserahkan ke Israel
Namun, para peneliti menekankan bahwa meskipun HKU5-CoV-2 memiliki kemampuan pengikatan yang lebih kuat daripada strain aslinya dengan rentang inang yang lebih luas, strain ini jauh lebih lemah daripada SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, dengan risiko penularan luas antar manusia yang rendah.
China sebelumnya menolak “teori yang didukung CIA” bahwa pandemi COVID-19 berasal dari kebocoran laboratorium yang tidak disengaja di Wuhan, dan bukan penularan alami di pasar tradisional.
Kasus pertama virus COVID-19 dilaporkan di Wuhan, China bagian tengah, pada Desember 2019. Virus tersebut kemudian menyebar ke seluruh dunia, menyebabkan karantina wilayah nasional dan menyebabkan hampir tujuh juta kematian.