Imbas Kecelakaan Maut GT Ciawi, Pemerintah Perlu Keluarkan Regulasi Zero ODOL
JAKARTA - Pengamat Transportasi yang juga Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang menegaskan, pemerintah perlu mengeluarkan regulasi terkait Zero ODOL guna mengatasi keselamatan transportasi di jalan.
Adapun Zero ODOL merupakan program strategis Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang bertujuan menghentikan praktik pengangkutan barang melebihi kapasitas dan dimensi kendaraan.
Dia menilai, kecelakaan yang melibatkan truk sudah sering terjadi di ruas tol. Terlebih, adanya kecelakaan maut yang melibatkan truk pengangkut galon air mineral di Gerbang Tol (GT) Ciawi 2, Jawa Barat, pada Selasa malam, 4 Februari.
"Sebenarnya masalahnya tidak hanya masalah teknis, ya, tapi juga masalah di regulasinya. Kami selalu meributkan tadi secara teknis remnya blong, bukan masalah itu sebenarnya. Masalahnya itu di hulunya," ujar Deddy saat dihubungi VOI, Rabu, 5 Februari.
"Di sini banyak yang terlibat juga antara kementerian, ya, seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan. Jadi, semua juga harus duduk bersama lagi untuk memikirkan (solusi) masalah ini seperti apa," sambungnya.
Menurut Deddy, permasalahan kendaraan ODOL itu tak hanya menjadi ranah Kementerian Perhubungan (Kemenhub), tetapi juga menjadi tanggung jawab kementerian lainnya.
"Masalah ini bukan hanya di Kementerian Perhubungan, juga bukan di polisi. Tapi, yang memberikan muatan itu di Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Regulasinya bagaimana," tegas Deddy.
"Karena alasannya mereka kalau namanya (kendaraan) ODOL dilarang akan terjadi inflasi dan segala macamnya. Kami sendiri juga belum paham, ya, analisisnya ada dimana gitu," sambungnya.
Deddy menilai, sejumlah kementerian tersebut harus mengadakan pertemuan bersama guna menyepakati Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait penertiban kendaraan ODOL.
Mengingat, kata dia, jumlah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan ODOL terus bertambah setiap tahunnya. Berdasarkan data yang dimiliki kepolisian, Deddy menyebut, hampir 15 persen kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kendaraan ODOL.
"Jadi, kalau persentasenya dari semua kecelakaan, kendaraan ODOL itu (berkontribusi) 12-15 persen (akibat rem blong). Jadi, regulasi semacam SKB Zero ODOL harus ada dan disepakati sejumlah kementerian itu," pungkasnya.
Sebelumnya, kecelakaan beruntun terjadi di Gerbang Tol (GT) Ciawi 2, tepatnya pada KM 41+400 ruas Tol Jagorawi arah Jakarta, Selasa malam, 4 Februari.
Sesaat setelah kejadian, petugas dari Representative Office 1 Jasamarga Metropolitan Tollroad (JMT) selaku pengelola ruas Tol Jagorawi bersama Jasamarga Tollroad Operator (JMTO) dan kepolisian tiba di lokasi untuk melakukan pengamanan dan segera melakukan pengaturan lalu lintas.
Senior Manager Representative Office 1 Jasamarga Metropolitan Tollroad Regional Division Alvin Andituahta Singarimbun mengatakan, lalu lintas menuju GT Ciawi 2 sempat dialihkan keluar melalui GT Bogor selama dilakukan pengamanan dan evakuasi di lokasi kejadian.
"Sejak pukul 02.00 WIB, telah dibuka dua gardu untuk dilintasi dan pada pukul 05.15 sampai dengan saat ini dibuka satu Gardu Tol Otomatis (GTO) dan dua Gardu Tol Multi. Petugas juga mengaktifkan mobile reader untuk meningkatkan kapasitas transaksi di GT Ciawi 2," ujar Alvin dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 5 Februari.
Berdasarkan informasi petugas di lapangan, diduga truk pengangkut galon air mineral mengalami masalah pengereman, sehingga pengemudi tidak dapat mengendalikan laju kendaraannya di GT Ciawi 2 dan menabrak lima kendaraan di depannya.
Dalam kecelakaan beruntun ini, ada enam kendaraan yang terlibat.
Akibat kejadian ini, tiga gardu di GT Ciawi 2 mengalami kerusakan, satu truk dan lima kendaraan MPV mengalami rusak berat.
Baca juga:
Sebanyak delapan orang dinyatakan meninggal dunia, empat orang mengalami luka berat dan tujuh orang mengalami luka ringan.
Termasuk, diantara para korban adalah petugas Customer Service Jasa Marga yang sedang bertugas di lapangan.
"Seluruh korban telah dievakuasi ke RSUD Ciawi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," tutur Alvin.