Kasus Penyimpangan Seksual Sedang Marak di Indonesia, Kenali Jenis-Jenis Kelainan Seksual

JAKARTA - Dalam beberapa waktu terakhir, kasus penyimpangan seksual beberapa kali terjadi di Indonesia. Pada 26 Januari, polisi mengamankan pelaku mesum oral seks di Halte bus SMKN 34 Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, pada 17 Januari silam, istri komedian Isa Bajaj mendapat pelecehan seksual bentuk eksibionis. Polisi berhasil menangkap pelaku yang berusia 50 tahun, di tempat tinggalnya, di kawasan Jakarta Timur.

Selain dua penyimpangan seksual tersebut, ada banyak jenis kelainan seksual lainnya. Berikut perilaku-perilaku yang tergolong penyimpangan seksual, mengutip dari situs Yourtango.

Ekshibisionisme

Pelaku merasakan kepuasan seksual ketika berhasil membuat korbannya terkejut dengan aksinya. Perilaku ekshibisionis tidak berbentuk kontak fisik apalagi melakukan tindakan seksual.

Contoh perilaku ini ialah masturbasi atau memperlihatkan alat kelamin di tempat umum.

Voyeurisme

Pelaku memperoleh kenikmatan seksual dengan cara mengintip orang ganti pakaian, orang sedang mandi, atau sedang melakukan aktivitas seksual. 

Froteurisme

Pelaku memperoleh kepuasan seksual dengan cara menggesekan kelaminnya pada anggota badan korbannya. Biasanya aksi ini dilakukan di tempat umum.

Paedofilia

Pelaku memiliki orientasi seksual atau ketertarikan dengan anak di bawah 13 tahun. Aksi yang dilakukan biasanya sampai melakukan aktivitas seksual. 

Sadomasokis

Pelaku memperoleh kenikmatan seksual dari rasa sakit. Rasa sakit yang diinginkan berasal dari tindakan verbal atau non verbal. Tindakan verbal seperti makian atau kata-kata kasar. Tindakan non verbal seperti mencekik, mencambuk, menggigit, mengikat ketika melakukan aktivitas seksual.

Zoofilia

Pelaku memperoleh kenikmatan seksual dengan cara melakukan tindakan seksual dengan binatang. Tindakan seksual yang dilakukan tak sebatas fisik, namun juga melibatkan emosi.

Sadisme

Pelaku menerima kepuasan seksual dengan cara menyiksa pasangannya. Orang yang mengidap kelainan ini merasa berkuasa atas pasangannya atau otoriter. Pelaku merasa senang ketika pasangannya sakit secara fisik maupun psikologis. 

Nekrofilia

Pelaku mencari kepuasan seksual dengan cara melakukan aktivitas seksual dengan mayat.