Arkeolog Inggris Temukan Kamp Militer Romawi di Gurun Arab lewat Citra Satelit

JAKARTA - Citra satelit telah mengungkap penemuan "spektakuler" kamp militer Romawi di Gurun Arab, ketika para arkeolog dari University of Oxford mengidentifikasi tiga kamp Romawi berbenteng baru - dalam "bentuk kartu remi yang khas" - di Arab utara.

Penemuan ini mendukung gagasan, serangan mendadak selama kampanye militer Romawi yang sebelumnya tidak ditemukan terkait dengan pengambilalihan Kerajaan Nabataean pada tahun 106 Masehi, sebuah peradaban yang berpusat di sekitar Kota Petra di Yordania modern.

Michael Fradley, yang memimpin penelitian ini dan pertama kali mengidentifikasi kamp-kamp yang terawat dengan baik lewat Google Earth mengatakan, hanya ada sedikit keraguan mengenai tanggal pembangunan kamp-kamp tersebut.

"Kami hampir yakin bahwa kamp-kamp tersebut dibangun oleh tentara Romawi, mengingat bentuk khas kartu remi dari kandang-kandang tersebut dengan pintu masuk yang berlawanan di setiap sisinya," katanya dalam laporan yang diterbitkan pada jurnal 'Antiquity', seperti melansir The National News 27 April.

"Satu-satunya perbedaan yang mencolok di antara keduanya adalah, kamp paling barat jauh lebih besar daripada dua kamp di sebelah timur," sambungnya.

Sementara itu, ahli militer Romawi dari Oxford Mike Bishop mengatakan: "Kamp-kamp ini adalah penemuan baru yang spektakuler dan wawasan baru yang penting tentang kampanye Romawi di Arab".

"Perkubuan dan benteng-benteng Romawi menunjukkan bagaimana Romawi menguasai sebuah provinsi. Namun kamp-kamp sementara mengungkapkan bagaimana mereka mendapatkannya pada awalnya," jelasnya.

Para peneliti menduga, kamp-kamp tersebut dibangun oleh tentara sebagai tempat tinggal sementara yang bisa dipertahankan dan digunakan ketika mereka sedang berkampanye.

"Tingkat pelestarian kamp-kamp tersebut sangat luar biasa, terutama karena mereka mungkin hanya digunakan dalam hitungan hari atau minggu," tambah Dr. Fradley.

"Mereka mengikuti rute kafilah pinggiran yang menghubungkan Bayir dan Dumat Al Jandal. Hal ini menunjukkan sebuah strategi untuk memotong rute yang lebih sering digunakan di Wadi Sirhan, menambahkan elemen kejutan pada serangan tersebut," paparnya.

"Sungguh menakjubkan bahwa kita dapat melihat momen ini dalam waktu yang dimainkan pada skala lanskap," tandasnya.

Adapun Andrew Wilson, salah satu penulis makalah tersebut, mengatakan: "Kamp-kamp berbaris ini - jika kita benar dalam menentukan tanggal pada awal abad kedua - menunjukkan bahwa aneksasi Romawi terhadap Kerajaan Nabataean setelah kematian raja terakhir, Rabbel II Soter pada tahun 106 Masehi, bukanlah urusan yang mudah dan bahwa Roma bergerak cepat untuk mengamankan kerajaan tersebut."

Karena jarak antara masing-masing kamp adalah 37 km hingga 44 km, para peneliti berspekulasi bahwa jarak tersebut terlalu jauh untuk diseberangi oleh pasukan infanteri dalam sehari.

Oleh karena itu, mereka menduga bahwa kamp-kamp tersebut dibangun oleh unit kavaleri yang dapat melintasi medan yang tandus dalam satu hari, mungkin dengan menunggang unta.

Berdasarkan jarak antara kamp-kamp tersebut, ada juga perkiraan, kamp lain mungkin terletak lebih jauh ke barat di benteng Umayyah dan stasiun sumur di Bayir.

Penelitian ini menetapkan kamp-kamp yang baru ditemukan tersebut berjalan dalam garis lurus menuju Dumat Al Jandal di tempat yang sekarang dikenal sebagai Arab Saudi, namun pada saat itu merupakan sebuah pemukiman di sebelah timur Kerajaan Nabatea.

Para peneliti mengatakan, temuan ini menunjukkan bahwa Roma harus memaksa pengambilalihan. Sedangkan sejarah Romawi yang masih ada menyatakan, pengalihan kekuasaan adalah peristiwa damai di akhir masa pemerintahan raja Nabataean terakhir.

Para arkeolog masih perlu mengonfirmasi tanggal kamp-kamp tersebut melalui investigasi di lapangan, tetapi ada pertanyaan lain yang perlu dijawab.

"Mengapa kamp barat memiliki kapasitas dua kali lipat dari dua kamp lainnya? Apakah pasukan terpecah, dan jika ya, ke mana perginya separuh lainnya?" tanya Dr. Wilson.

"Apakah separuhnya musnah dalam pertempuran, atau apakah mereka tetap berada di kamp barat untuk memasok air ke kamp-kamp lain?" pungkasnya.