Masyarakat Hulu Sungai Tengah Krisis Air Bersih

JAKARTA - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Hulu Sungai Tengah bekerja sama dengan PMI Kalimantan Timur mendatangkan mesin pengolah air bersih pascabanjir di daerah itu guna memenuhi kebutuhan warga di lokasi bencana.

Koordinator Water Sanitatiin and Higeine (WASH) PMI Hulu Sungai Tengah M. Syaiful Rahman dihubungi Antara dari Banjarmasin, Sabtu, 23 Januari, menjelaskan mesin pengolah air bersih siap pakai itu beserta mekanik didatangkan langsung dari Kaltim.

"Mesin bernama 'NUF Filtration' itu dilansir dapat menghasilkan saringan air bersih 1.200 liter per jam," ujar dia.

Namun, katanya, karena keterbatasan tenaga dan kapasitas mesin, sementara ini pihaknya hanya bisa mendistribusikan air bersih ke Desa Benawa Tengah dan Desa Bungur.

"Bersama Om Gowank dan kawan-kawan dari PMI Kaltim," katanya.

Untuk penampungan air bersih, PMI "Bumi Murakata" Hulu Sungai Tengah masih terkendala jumlah tandon yang terbatas sehingga tidak mampu melakukan pendistribusian dengan jangkauan lebih luas.

Karena itu, katanya, bagi dermawan yang ingin mendonasikan tandon air bisa langsung ke Posko PMI Hulu Sungai Tengah di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Alwashliyah Barabai (165 kilometer utara Banjarmasin).

Sepekan lebih sejak banjir bandang menyapu sebagian besar wilayah "Bumi Murakata" Hulu Sungai Tengah, air bersih masih menjadi problem masyarakat setempat.

Bantaran air Sungai Barabai atau Kali Benawa hingga Sabtu, 23 Januari masih terpantau keruh (cokelat kemerahan) sehingga belum memungkinkan untuk konsumsi.

Sebelumnya, Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalsel Rizki Niraz Anggraini mengingatkan pemerintah agar memperhatikan lebih maksimal terhadap penanganan pascabanjir di daerah itu.

"Sebagai contoh penanganan sanitasi dan kebutuhan air bersih warga jangan sampai menjadi masalah," ujar wakil rakyat asal Daerah Pemilihan Kalsel IV/Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Tengah itu.