Rusia Tiga Kali Mundur di Ukraina dan Hampir 200 Ribu Pasukan Tewas atau Terluka, Kenapa Shoigu Tetap Menteri Pertahanan?

JAKARTA - Pasukannya tiga kali mundur dari medan perang di Ukraina tahun lalu dan hampir 200.000 anak buahnya telah terbunuh atau terluka menurut para pejabat AS, tetapi Menteri Pertahanan Rusia masih tetap bekerja berkat Presiden Vladimir Putin.

Pemimpin Rusia itu memiliki berbagai alasan untuk mempertahankan Sergei Shoigu di posisinya, menurut para pejabat Barat, pengamat veteran Kremlin dan mantan komandan militer Barat. Selain sangat loyal dan membantu Putin menjadi presiden, pengambilan keputusan di Ukraina tidak hanya menjadi tanggung jawabnya.

"Loyalitas selalu mengalahkan kompetensi dalam lingkaran dalam Putin," kata Andrew Weiss, seorang spesialis Putin di lembaga pemikir Carnegie Endowment yang memegang berbagai peran kebijakan di Dewan Keamanan Nasional AS dan penulis sebuah buku tentang Putin, melansir Reuters 21 Februari.

Presiden Putin telah mengakui secara terbuka bahwa ia merasa sulit untuk memecat orang dan biasanya menangani masalah seperti itu secara pribadi, kata Weiss.

"Beberapa orang di posisi senior, yang kinerja pekerjaannya menyisakan banyak hal yang tidak diinginkan, termasuk Shoigu, mendapat manfaat dari sisi sentimental kepribadian (Putin) yang kurang dihargai ini," ungkapnya.

Presiden Putin dan Menhan Shoigu. (Wikimedia Commons/Пресс-служба Президента России)

Kementerian Pertahanan Rusia tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar mengenai Shoigu atau kinerjanya sendiri di Ukraina, di mana pasukannya berusaha keras untuk merebut Kota Bakhmut dan Kota Vuhledar di bagian timur.

Shoigu telah menduduki jabatan-jabatan penting dalam struktur kekuasaan Rusia secara terus menerus sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, dan menjabat sebagai menteri keadaan darurat di bawah mendiang Presiden Boris Yeltsin.

Diangkat sebagai menteri pertahanan pada 2012, ia merupakan bagian dari lingkaran dalam Presiden Putin. Sehoigu menikmati liburan berburu dan memancing bersama Putin di kampung halamannya di Siberia.

Tatiana Stanovaya, pendiri firma analisis R.Politik dan pengamat Kremlin mengatakan, Presiden Putin lebih suka bekerja dengan orang-orang yang ia kenal dengan baik, terlepas dari kekurangan yang mereka miliki.

"Baginya, itu lebih mudah secara psikologis," katanya, sambil menunjuk pada profil Shoigu yang menyoroti pada tahun 1999 adalah salah satu pemimpin partai politik yang membantu mendorong Putin ke kursi kepresidenan.

Presiden Putin dan Menhan Shoigu. (Wikimedia Commons/Пресс-служба Президента Российской Федерации)

"Sejak saat itu, Putin merasa berhutang budi pada Shoigu," terang Stanovaya dalam profilnya di media daring Riddle.

"Ia telah dijamin mendapatkan tempat yang nyaman dalam politik Rusia, asalkan ia tidak melakukan kesalahan serius," sambungnya.

Seorang sumber yang dekat dengan pihak berwenang Rusia yang menolak disebutkan namanya, karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media mengutip pepatah Rusia kuno untuk memberikan alasan lain, mengapa mereka berpikir bahwa kecil kemungkinan Shoigu akan diganti dalam waktu dekat.

"Anda tidak bisa mengganti kuda di tengah jalan," kata mereka, merujuk pada kebutuhan untuk memastikan kesinambungan di masa-masa sulit. Tentara Rusia telah belajar dari kesalahannya dan berhasil beradaptasi, kata sumber tersebut.

Sementara, seorang diplomat senior NATO dan pejabat senior Uni Eropa mengatakan, mereka menganggap Putin dan para jenderalnya sebagai pengambil keputusan utama di Ukraina, bukan Shoigu seorang.

Stanovaya mengatakan, Shoigu berfokus pada pengelolaan kementeriannya yang luas dan hubungannya dengan industri pertahanan, yang berarti tanggung jawab untuk kampanye Ukraina dibagi-bagi.

"Putin sendiri bekerja (di Ukraina) dengan para jenderal, tidak hanya dengan satu atau dua tokoh, dan kadang-kadang terlibat dalam situasi (medan perang) di tingkat yang lebih rendah," paparnya.

Diketahui, Kepala Staf Umum Jenderal Angkatan Darat Valery Gerasimov bulan lalu ditunjuk untuk menjalankan perang di Ukraina, sementara Jenderal Angkatan Udara Sergei Surovikin, yang dijuluki "Jenderal Armageddon" oleh media Rusia, diturunkan jabatannya menjadi wakil komandan operasi.

Kedua orang itu, tidak seperti Shoigu, adalah perwira militer karier. Sergei Markov, mantan penasihat Kremlin, mengatakan, Surovikin masih sangat terlibat di Ukraina meskipun ia telah diturunkan jabatannya.

Presiden Putin dan Menhan Shoigu. (Wikimedia Commons/Пресс-служба Президента Российской Федерации)

Kremlin mengatakan, mereka akan mencapai tujuannya di Ukraina dalam apa yang mereka sebut sebagai "operasi militer khusus", menepis perkiraan Barat mengenai jumlah korban yang dibesar-besarkan.

Pasukan Rusia masih menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina dan dicurigai oleh Kyiv sedang bersiap-siap untuk melakukan serangan baru.

Namun, invasi Rusia secara luas dianggap telah menyoroti militer Moskow, yang dipukul mundur dari Kyiv, dialihkan ke timur laut Ukraina, kemudian dipaksa untuk menyerahkan Kota Kherson di bagian selatan.

Yevgeny Prigozhin, pendiri kelompok tentara bayaran Rusia Wagner, merupakan salah satu pengkritik Shoigu yang paling keras, mengklaim anak buahnya sendiri yang telah memelopori beberapa serangan di Ukraina timur, jauh lebih efektif daripada tentara reguler.

Prigozhin telah menghindari serangan pribadi dalam beberapa pekan terakhir sejak diminta untuk berhenti oleh Kremlin. Ia sebelumnya menyebut para petinggi militer sebagai "bajingan" yang harus dikirim ke garis depan dengan senapan mesin.

Presiden Putin dan Menhan Shoigu. (Wikimedia Commons/Пресс-служба Президента Российской Федерации)

Terpisah, Igor Girkin, mantan perwira Dinas Keamanan Federal yang membantu melancarkan konflik pada 2014 dengan pemberontakan separatis yang didukung Moskow dan kini berada di bawah sanksi AS, telah berulang kali mempertanyakan kompetensi Shoigu.

"Saya benar-benar ingin tahu kapan si pemalas ini akhirnya akan diadili di pengadilan militer atas caranya 'mempersiapkan tentara kita untuk perang'," tulis Girkin di blognya bulan ini.

Lain lagi dengan Ben Hodges, mantan komandan pasukan Angkatan Darat AS di Eropa, mengatakan kepada Reuters ia mengira Shoigu dan Gerasimov akan dipecat karena mereka tidak memberikan pasukan bersenjata yang "mampu melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka... Tidak ada yang bisa mengelak dari buruknya kinerja militer Rusia".

Hodges dan Rupert Jones, seorang pensiunan mayor jenderal yang menjabat sebagai Asisten Kepala Staf Umum Inggris, menunjuk pada apa yang mereka katakan sebagai perencanaan awal yang buruk dari militer Rusia, strategi, taktik, logistik, peralatan, serta upaya mobilisasi yang gagal dan masalah korupsi.

"Tidak terbayangkan", kata Jones, bahwa seorang menteri pertahanan Barat dapat mempertahankan pekerjaannya dalam situasi seperti itu.

"Dia pasti akan dipecat, dia pasti akan jatuh tersungkur karena dia akan melihat kegagalannya sendiri, atau media atau publik akan mencari-cari alasannya," tandasnya.

Terlepas dari kesalahan Moskow di Ukraina, Jack Watling, seorang peneliti senior di lembaga think-tank RUSI yang berbasis di London, mengatakan bahwa Shoigu telah "secara besar-besaran meningkatkan" kemampuan militer dan mengawasi operasi-operasi yang kompleks namun sukses sebelum Ukraina.

"Jadi, ini bukan sekadar gertakan," kata Watling.