BPS: Timor Leste Jadi Negara Asal Wisman Terbanyak di Indonesia di November 2020

JAKARTA – Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut Timor Leste sebagai negara asal wisatawan mancanegara (wisman) terbanyak di Indonesia pada sepanjang November 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan dari 175,3 ribu kunjungan wisman pada periode tersebut, Timor Leste menyumbang sekitar 41,6 persen atau setara dengan 72.900 kali kunjungan.

“Tentu saja (banyaknya kunjungan ini) melibatkan lintas batas,” ujarnya dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Senin, 4 Januari.

Adapun, dua kunjungan wisman terbanyak lainnya berasal dari Malaysia dengan 41.600 kunjungan (23,7 persen) dan China yang tercatat 6.500 kunjungan atau setara 3,7 persen. Secara year-on-year, kunjungan November 2020 menurun 86,31 persen dibandingkan dengan periode November 2019 yang tercatat sebanyak 1,28 juta kunjungan.

Kemudian untuk tahun penuh (Januari–November 2020), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 3,89 juta kunjungan atau turun sebesar 73,60 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dengan 14,73 juta kunjungan.

“Seperti yang kita ketahui bersama bahwa penurunan ini terjadi akibat dampak dari pandemi COVID-19,” jelas Setianto.

Anjloknya angka pelesir turis wisatawan asing tersebut berbanding lurus dengan tingkat Tingkat Penghunian Kamar atau TPK. BPS mengungkapkan bahwa TPK hotel klasifikasi bintang di Indonesia bulan November 2020 mencapai rata-rata 40,14 persen secara tahunan.

Sebaliknya, jika dibandingkan dengan Oktober 2020, TPK November 2020 mengalami kenaikan sebesar 2,66 poin.

"Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama November 2020 tercatat sebesar 1,59 hari, atau terjadi penurunan sebesar 0,19 poin jika dibandingkan dengan keadaan November 2019,”  tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Badan Pusat Statistik juga membeberkan data bahwa tingkat inflasi pada sepanjang 2020 sebesar 1,68 persen. Angka tersebut diketahui menjadi yang paling rendah dalam tujuh tahun terakhir atau sejak 2014.

“Inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1,87 persen dan terendah terjadi di Tanjung Selor sebesar 0,05 persen,” kata Setianto.

Sementara deflasi tertinggi terjadi di Luwuk sebesar 0,26 persen dan terendah terjadi di Ambon sebesar 0,07 persen.