Terancam Punah: Trenggiling Diburu untuk Dimakan, Sisiknya Laris Manis Dijual

JAKARTA - Para konservasionis di Liberia bertekad untuk menghentikan tradisi berburu trenggiling yang sudah turun-temurun, yang rentan terhadap kepunahan karena perburuan liar.

Mencengkeram senapan laras tunggal di Liberia utara yang subur, Emmanuel mengatakan 10 anaknya bisa mendapatkan pendidikan berkat senjatanya.

Dia secara teratur mengabaikan larangan berburu daging hewan liar, mendapatkan sebagian besar uangnya dengan menangkap trenggiling dan monyet di hutan sekitarnya.

Pada Musim Kemarau, Emmanuel menunggu gelap dan kemudian mendaki ke hutan dengan senapan dan parangnya. Trenggiling, mamalia pemakan serangga bersisik yang biasanya seukuran kucing dewasa, sebagian besar aktif di malam hari, menghirup kayu mati untuk mencari semut dan rayap.

Spesies ini berada di bawah ancaman di seluruh dunia, tetapi tetap menjadi makanan lezat di negara miskin Afrika Barat itu.

Sisik mereka, terbuat dari keratin, seperti kuku manusia, juga dihargai oleh konsumen di Asia karena khasiat obatnya.

"Kami membunuhnya, kami memakannya," kata Emmanuel, di sebuah desa di Kabupaten Gbarpolu, lima jam berkendara ke utara ibukota Monrovia di sepanjang jalan tanah yang berlubang, dikutip dari Euronews 26 Maret.

"Lalu sisiknya, kami jual. Tidak ada pilihan lain," lanjut George.

Ilustrasi trenggiling. (Wikimedia Commons/U.S. Fish and Wildlife Service Headquarters)

Sebuah studi tahun 2020 oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat memperkirakan, antara 650.000 dan 8,5 juta ekorb trenggiling dihilangkan dari alam liar antara tahun 2009 hingga 2020.

Diketahui, populasi trenggiling menurun di seluruh dunia karena deforestasi, konsumsi daging hewan liar dan perdagangan sisik.

Menurut Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), penyitaan sisik trenggiling telah meningkat sepuluh kali lipat sejak 2014, menunjukkan perdagangan global yang sedang booming.

Trenggiling diyakini sebagai hewan yang paling banyak diperdagangkan di dunia, dengan Liberia adalah salah satu negara asal utama. Lebih dari 40 persen negara ini tertutup hutan hujan dan tata kelolanya lemah.

Negara ini juga masih belum pulih dari perang saudara yang brutal dari 1989 hingga 2003, serta dari krisis Ebola 2014-16.

Dengan peringatan dari para konservasionis, Pemerintah Liberia melarang perburuan spesies yang dilindungi tanpa izin pada tahun 2016, dengan menjatuhkan hukuman hingga enam bulan penjara atau denda maksimum 4.500 euro atau sekitar 5.000 dolar AS.

Untuk diketahui, langkah ini tidak akan mudah lantaran pemerintah berhadapan dengan dua kekuatan, yakni tradisi dan kemiskinan, saat mencoba mengurangi perburuan hewan yang rentan ini.