Elon Musk Ngamuk Satelitnya Disebut Berbahaya di Luar Angkasa

JAKARTA - CEO SpaceX, Elon Musk, tak tinggal diam saat armada satelit internetnya dikatakan mengganggu dan berbahaya. Ia bahkan langsung menolak tegas kritik pedas itu.

SpaceX selama ini mengoperasikan sejumlah besar satelit yang dijuluki Starlink itu. Satelit itu mengelilingi atas Bumi untuk menyediakan internet bagi penghuninya. Musk berpendapat, satelitnya akan membantu untuk membawa koneksi internet yang andal dan cepat ke sebagian besar planet ini.

Namun, para astronom mengatakan Starlink menghalangi pandangan ke langit, dan para ahli luar angkasa telah memperingatkan bahwa satelitnya berisiko bertabrakan dan menyebabkan bahaya di luar angkasa.

Kepala Badan Antariksa Eropa (ESA) berpendapat bahwa Musk membuat aturan sendiri untuk operasi industri di atas Bumi. Tetapi Musk sekarang mengatakan bahwa dampak dari satelit tidak berarti apa-apa dan tidak menimbulkan masalah.

“Ruang angkasa sangat besar, dan satelit sangat kecil. Ini bukan situasi di mana kita secara efektif memblokir orang lain dengan cara apa pun. Kami tidak memblokir siapa pun untuk melakukan apa pun, kami juga tidak mengharapkannya," tutur Musk kepada Financial Times dikutip dari The Independent, Jumat, 31 Desember.

Pria berusia 50 tahun itu menegaskan, tidak akan ada dampak dari beberapa ribu satelit. Meski begitu, pakar luar angkasa menyatakan pendapat bahwa hanya diperlukan tabrakan yang relatif kecil untuk menyebabkan gangguan besar di langit di atas Bumi dan pada orang-orang di bawahnya.

Sebuah studi tahun 1978 oleh seorang ilmuwan NASA memunculkan ketakutan akan sindrom Kessler, di mana bahkan tabrakan kecil dapat memicu efek domino yang dapat membentuk lapisan puing, tidak hanya menghancurkan satelit tetapi membuat peluncuran ruang angkasa baru menjadi tidak mungkin.

Sebelumnya, satelit milik Musk ini juga diprotes oleh China, karena memaksa Tiangong Space harus mengambil tindakan untuk menghindari tabrakan dengan satelit yang diluncurkan oleh Musk.

Menurut dokumen yang diserahkan oleh China awal bulan ini ke badan antariksa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), satelit dari Starlink Internet Services dikatakan memiliki jarak yang sangat dekat dengan stasiun luar angkasa China pada 1 Juli dan 21 Oktober.

“Untuk alasan keamanan, Stasiun Luar Angkasa China menerapkan kontrol pencegahan tabrakan,” ungkap China dalam sebuah dokumen yang diterbitkan di situs web Kantor Urusan Luar Angkasa PBB.