JAKARTA - Untuk pertama kalinya, para peneliti menemukan spesies nyamuk tropis di Semenanjung Korea. Spesies ini dikenal sebagai Culex quinquefasciatus atau yang biasa disebut “southern house mosquito”. Nyamuk tersebut ditemukan di Pulau Jeju, pulau paling selatan di Korea Selatan.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) menjelaskan pada 3 November bahwa sampel nyamuk yang dikumpulkan pada bulan Agustus di Pulau Jeju ternyata termasuk spesies ini. Biasanya nyamuk Culex quinquefasciatus hidup di wilayah beriklim tropis dan subtropis, bukan di daerah yang sejuk seperti Korea Selatan.

Nyamuk ini sebenarnya masih satu kelompok dengan nyamuk rumah umum yang sudah banyak ditemukan di Korea, Asia, Eropa, hingga Afrika. Namun yang membedakannya, spesies ini lebih suka hidup di daerah yang lebih hangat. Menariknya meski pernah disebut dalam sebuah penelitian tahun 1956 sebagai salah satu spesies yang ada di Korea, ini adalah pertama kalinya keberadaannya benar-benar terkonfirmasi.

KDCA menyebutkan nyamuk tersebut ditemukan di beberapa lokasi berbeda di Jeju. Hal ini menunjukkan nyamuk tersebut tampaknya sudah mampu bertahan hidup dan berkembang biak di sana. Penemuan ini dilakukan dalam rangka pemantauan penyebaran penyakit.

“Belum jelas bagaimana nyamuk ini sampai ke sini, tetapi sepertinya lingkungan di Korea Selatan sekarang sudah cocok bagi spesies ini. Pada musim pemantauan berikutnya, kami akan mengecek apakah spesies ini juga sudah menyebar ke wilayah lain selain Jeju," kata pejabat KDCA, dikutip dari laman The Straits Times.

Perubahan iklim diduga menjadi salah satu faktor utama. Menurut laporan Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan tahun 2023, suhu rata-rata Korea naik sekitar 1,6°C dari tahun 1912 hingga 2020. Kenaikan ini lebih cepat dibanding rata-rata global yang sekitar 1,09°C pada periode yang sama.

Nyamuk Culex quinquefasciatus diketahui bisa menjadi pembawa beberapa penyakit yang menular pada manusia, termasuk virus West Nile. Namun sejauh ini virus tersebut memang sudah dibawa oleh jenis nyamuk lain di Korea dan belum pernah ada kasus infeksi West Nile di dalam negeri.

KDCA menegaskan keberadaan spesies baru ini tidak otomatis meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

“Ini berarti kami hanya punya satu vektor tambahan yang harus dipantau." kata pihak KDCA.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)