Jerat Produk Kecantikan Abal-Abal, Bagaimana Cara Menghindarinya?
Ilustrasi (Foto: Unsplash, Desain: Raga Granada/VOI)

Bagikan:

Sebelumnya kita telah membuktikan bahwa merawat kecantikan tubuh bukanlah perkara mudah. Untuk itu, banyak orang yang datang ke klinik kecantikan guna merawat kecantikan tubuhnya. Industri perawatan kecantikan pun tumbuh subur. Yang menjadi persoalan adalah banyak oknum yang berusaha memanfaatkan ceruk bisnis perawatan dan produk kecantikan murah, tapi mengabaikan keamanannya. Tulisan Seri Khas VOI "Jadi Muda Abadi" selanjutnya, tentang menghindari jerat klinik kecantikan abal-abal.

 

Sudah banyak contohnya mereka yang kena jerat rayuan produk kecantikan abal-abal. Salah satunya bahkan berasal dari kalangan selebritas Instagram, Monica Indah. 

Monica menjadi korban dari filler payudara di sebuah klinik kecantikan abal-abal di Jakarta. Kala itu, dirinya tertarik melakukan filler payudara setelah melihat unggahan temannya seorang "selebgram." 

Sayangnya bukan bentuk payudara ideal yang Monica dapat, dirinya malah menjadi korban malpraktik klinik kecantikan. "Saat ini payudara kanan aku cacat tidak berbentuk. Sebelah kiri aku belum tahu kan masih bolong," kata Monica dikutip Detik.

Mulanya Monica hanya mau menyimpan ceritanya ini rapat-rapat. Tapi kemudian hatinya tergerak karena lama-lama ia melihat korban dari klinik kecantikan ini semakin banyak. 

Monica mengaku hal itu terjadi lantaran dirinya kurang mendapat edukasi soal bahayanya klinik kecantikan abal-abal. Ia mengatakan kasusnya ini seperti fenomena gunung es. Sebab, masih banyak korban lain dari kasus malpraktik klinik kecantikan abal-abal. Salah satunya Seruni, wanita asal Sengkang, Sulawesi Selatan. 

Seruni tertarik menggunakan jasa klinik kecantikan abal-abal karena usahanya menghilangkan jerawat tak kunjung berhasil. Ia lantas tergiur untuk melakukan perawatan ke klinik kecantikan di wilayahnya. Tapi bukannya sembuh, wajah Seruni malah mengalami kelainan seperti terbakar.

"Pas treatment itu saya ingat banget diolesi krim yang pedih banget rasanya, sampai panas semuka dan dikipasin sama pegawainya. Terus jerawat saya yang meradang dicungkil pakai alat yang untuk cungkil komedo itu sampai harus nahan sakitnya. Ada juga pasien di samping saya itu sampai nangis," kenang Seruni.

Seruni mengaku dirinya memiliki informasi yang sedikit terkait klinik kecantikan abal-abal. Pada akhirnya, Seruni menghentikan kunjungan ke klinik kecantikan tersebut. Segala macam suplemen dan krim dari klinik itu dibuang oleh Seruni. Karena itu, Seruni beralih kepada produk-produk penghilang jerawat yang alami. Kendati demikian, bekas-bekas jerawat masih bersisa di wajahnya.

Ilustrasi (Sumber: Unsplash)

Bahaya tapi tetap dicoba

Apa yang dialami Monica dan Seruni bisa dibilang akibat dari kurangnya pengetahuan mereka akan bahaya produk dan klinik kecantikan abal-abal. Tapi faktanya, saat ini rupanya masih banyak orang yang tetap nekat mempercantik diri dengan mendatangi klinik dan menggunakan produk kecantikan abal-abal. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Psikolog Dya Adis Putri Rahmadanti mengatakan akar dari menggilanya permintaan akan produk kecantikan adalah ketika potret kecantikan wanita yang diasosiasikan bertubuh langsung dan kulit putih di media massa. Tak ayal, klinik dan produk kecantikan abal-abal pun menjamur.

Senafas dengan itu, sebagaian besar wanita banyak yang mudah tergiur dengan promosi. Kemudian, hal itu diperparah dengan mereka yang tak kuat secara ekonomi sehingga mengabaikan mana produk dan klinik kecantikan asli atau abal. 

Asalkan murah, semuanya dicoba. Oleh karena itu, supaya tak mudah diiming-imingi oleh produk perawatan dan klinik kecantikan abal-abal, Dya menyarankan supaya wanita pro-aktif dalam mencari informasi. Langkah lainnya adalah dengan menanamkan self love pada diri, yakni mulai menerima segala kekurangan dalam diri.

“Seperti contohnya bahwa semua wanita itu pada dasarnya cantik dan memiliki kecantikan yang berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan, sehingga ketika ada persepsi di luaran sana kalau cantik itu putih, langsing, dan lainnya, kita tidak akan mempunyai keinginan yang berlebihan dan akhirnya mencoba skincare ‘abal-abal’ yang memiliki efek instan, namun berbahaya untuk kulit. Kita bisa menerima diri kita apa adanya dan melakukan perawatan sesuai dengan kebutuhan kulit kita dan secara finansial yang kita miliki,” kata Dya.

Cara memilih produk dan klinik kecantikan

Pengalaman Monica dan Seruni menjadi pengalaman berharga agar kita bisa lebih bijak lagi memilih klinik dan produk kecantikan. Lalu bagaimana caranya mengetahui klinik dan produk kecantikan yang bukan abal-abal? Untuk menjawab hal itu Dokter Kecantikan Indah Roswita Sari punya jawabannya. 

Kita mulai dari memilih produk kecantikan yang aman. Menurut Indah, tak ada dokter yang dapat menilai secara kasat mata suatu produk kecantikan seperti krim jerawat berbahaya atau tidak. Lagi pula, ada lembaga atau labolatorium khusus yang memiliki kompetensi untuk memeriksa tingkat bahaya dari suatu krim jerawat. Akan tetapi, yang mesti dinilai justru dari mana seseorang membeli krim tersebut.

“Yang mesti kita nilai adalah dari mana kita membeli krim tersebut. Jika krim merupakan racikan oleh dokter, pembeli harus skeptis. Cari tahu dokternya siapa, apa benar dokter atau bukan?" ujar Indah dihubungi VOI

Sementara yang perlu diperhatikan menurut Indah adalah darimana kita memeroleh produk kecantikan tersebut. "Sebab, gak mungkin seorang dokter yang sudah disumpah mau mencelakakan pasiennya. Yang pasti untuk racikan yang berlabel biru, seorang dokter harus meresepkan racikan tersebut pada apoteker. Setelahnya, pasien dipantau oleh dokter tersebut sampai kapan memakai krim racikan.” 

Infografik (VOI/Raga Granada)

Lain lagi dengan produk perawatan wajah (skincare) berlabel Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Indah mengajak orang-orang untuk selalu skeptis dengan mengecek terlebih dahulu label BPOM yang terpampang di produk lewat aplikasi BPOM Mobile. Dari situ akan kelihatan mana produk yang sudah terdaftar dan belum terdaftar. Jika belum terdaftar, bijaknya jangan nekat untuk mencoba.

Indah juga menambahkan bahwa orang yang akan melakukan perawat jerawat, harus memahami efek samping dari krim jerawat yang berbeda-beda. Krim jerawat yang berisi kandungan retinoid --turunan vitamin A-- misalnya. Pada beberapa orang yang baru pertama kali memakai krim mengandung retinoid, merah-merah seperti jerawat akan timbul di wajah mereka. Biasanya, efek ini akan membaik selama 6-8 minggu. Untuk beberapa kasus, efek ini kadang tak muncul pada beberapa orang.

Namun, sebelum itu, kita perlu mengetahui apakah merah-merah itu disebabkan efek dari retinoid, atau memang karena kulit yang tak sehat. Apalagi, kulit manusia bersifat dinamis. Kulit dapat berubah tergantung makanan, stress, tidur yang cukup, dan sering tidaknya mengkonsumsi buah. Indah pun menekankan untuk menolak segala bentuk krim yang mengandung merkuri, karena sangat berbahaya bagi tubuh. Jika masih bingung, maka pilihlah klinik kecantikan yang mempunyai izin praktek yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan setempat.

“Jika klinik kecantikan tersebut dimiliki oleh dokter yang mempunyai izin praktek yang di keluarkan oleh dinas kesehatan setempat, atau pengusaha klinik yang memiliki dokter yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) di klinik tersebut dipastikan aman. Karena klinik tersebut pasti punya perizinan yang lengkap. Seperti izin klinik, izin apoteker, izin instalasi farmasi, izin perawat, dan izin limbah. Sebaliknya, jika tak mempunyai izin, apalagi bukan dokter sudah tentu itu abal-abal,” tambah Indah.