Bagikan:

JAKARTA — Uni Eropa tengah mempertimbangkan langkah besar yang bisa mengubah lanskap regulasi kecerdasan buatan. OpenAI berpotensi menghadapi aturan yang jauh lebih ketat setelah layanan andalannya, ChatGPT, dikaji untuk diklasifikasikan sebagai “very large search engine” di bawah Digital Services Act.

Jika status tersebut disahkan, ChatGPT akan masuk dalam kategori platform digital berisiko tinggi yang wajib mematuhi standar transparansi, mitigasi risiko, serta pengawasan konten yang jauh lebih ketat dibanding saat ini.

Status Baru Bisa Ubah Cara ChatGPT Beroperasi di Eropa

Di bawah Digital Services Act (DSA), platform yang dikategorikan sebagai sangat besar — biasanya dengan puluhan juta pengguna aktif — diwajibkan melakukan audit independen, membuka algoritma untuk pengawasan regulator, serta secara aktif mengelola risiko seperti disinformasi dan dampak terhadap masyarakat.

Langkah ini menandai pergeseran besar dalam cara regulator memandang AI. Jika sebelumnya chatbot dianggap sebagai alat bantu, kini mulai diperlakukan layaknya infrastruktur informasi publik, setara dengan mesin pencari.

Bagi OpenAI, ini berarti peningkatan beban kepatuhan yang signifikan, termasuk kemungkinan denda besar jika gagal memenuhi standar Uni Eropa.

Uni Eropa Perluas Cengkeraman Regulasi ke AI Generatif

Langkah ini juga mencerminkan ambisi Uni Eropa untuk menjadi pemain global dalam pengaturan teknologi, terutama AI generatif yang berkembang pesat.

Regulator khawatir bahwa chatbot seperti ChatGPT tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga membentuk opini publik, sehingga harus tunduk pada aturan yang sama seperti platform distribusi informasi besar lainnya.

Pendekatan ini berbeda dengan Amerika Serikat yang cenderung lebih longgar dalam tahap awal pengembangan AI.

Sinyal Keras untuk Industri AI Global

Jika OpenAI resmi masuk kategori ini, dampaknya bisa menjalar ke perusahaan AI lain yang beroperasi di Eropa. Standar tinggi dari DSA berpotensi menjadi acuan global, seperti yang sebelumnya terjadi pada regulasi privasi GDPR.

Bagi industri, ini semacam “level up” yang tidak bisa di-skip. Inovasi tetap jalan, tapi harus bareng tanggung jawab.

Sementara itu, bagi pengguna, regulasi ini bisa berarti perlindungan yang lebih kuat — meski mungkin dengan konsekuensi pengalaman yang lebih terkontrol.

Ikuti Whatsapp Channel VOI