Bagikan:

JAKARTA - Seiring dengan semakin masifnya penggunaan chatbot kecerdasan buatan (AI) untuk menemukan suatu informasi, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan bahwa AI harus dilatih dengan data yang akurat dan terpercaya.

Menurut Nezar, tanpa proses pelatihan data yang tepat, sistem AI berisiko menghasilkan jawaban yang bias dan menyesatkan, terutama pada isu sensitif, salah satunya seperti ajaran agama.

Wamen Nezar juga mengapresiasi upaya dari pihak pengembang platform yang melakukan mitigasi risiko dengan mencegah AI menjawab pertanyaan yang sensitif dan kritis, salah satunya adalah Aiman dan Aisha, platform AI keislaman dari Indonesia.

"Ini bagus, jadi sudah ada semacam penapis risiko untuk pertanyaan yang sensitif dan agak kritis, langsung dia akan menyarankan bertanya kepada Ustaz dan lain-lain," ujar Nezar dikutip Kamis, 5 Maret.

Nezar berharap platform Aiman dan Aisha dapat menjadi sebuah terobosan yang baik dalam pemanfaatan AI di bidang keagamaan.

Semetara itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujaddid Rais, menjelaskan bahwa generasi Z dan milenial saat ini sering mencari jawaban masalah agama melalui mesin pencari di internet.

Sayangnya, sumber dan rujukan di internet sering kali tidak sepenuhnya benar dan akurat.

"Kehadiran Aiman dan Aisha memperkaya khazanah Islam di masyarakat untuk melahirkan pemahaman agama yang harmonis," kata Ahmad.

Ahmad juga meminta platform untuk melengkapi data dengan berbagai rujukan kitab-kitab dan fatwa ulama agar dapat memberikan informasi-informasi yang lebih lengkap dan tepat bagi para penggunanya.