JAKARTA – Meta Platforms menghadapi tantangan hukum besar setelah produsen kacamata pintar yang lebih kecil, Solos Technology, melayangkan gugatan pelanggaran paten atas produk terlarisnya, Ray-Ban Meta. Gugatan yang diajukan di Pengadilan Distrik Massachusetts pada akhir Januari 2026 ini tidak hanya menuntut ganti rugi sebesar "beberapa miliar dolar," tetapi juga berupaya memblokir total penjualan kacamata pintar tersebut di pasar.
Jika pengadilan mengabulkan tuntutan ganti rugi "beberapa miliar" tersebut—misalnya sebesar 2 miliar dolar AS setara dengan Rp33,51 triliun, sebuah angka yang dapat mengguncang stabilitas finansial divisi perangkat keras Meta.
Solos mengklaim bahwa kacamata pintar generasi pertama dan kedua milik Meta melanggar lima paten inti terkait teknologi dasar kacamata pintar, termasuk sistem pengindraan multimodal, pemrosesan audio beamforming, hingga arsitektur asisten cerdas berbasis AI.
BACA JUGA:
Dalam dokumen gugatannya, Solos menuduh bahwa karyawan Meta dan mitra manufakturnya, EssilorLuxottica (induk perusahaan Ray-Ban dan Oakley), memiliki pengetahuan mendalam tentang peta jalan teknologi Solos sejak tahun 2015. Mereka bahkan menyebutkan adanya transfer pengetahuan dari seorang peneliti MIT yang pernah mempelajari teknologi Solos sebelum akhirnya bergabung dengan Meta sebagai manajer produk.
Situasi ini menjadi sangat kritis bagi Meta karena lini kacamata pintar Ray-Ban saat ini merupakan kategori produk dengan pertumbuhan tercepat di perusahaan tersebut. Setelah sempat kesulitan dengan visi "Metaverse" melalui perangkat VR yang berat, Meta justru meraih kesuksesan besar melalui kacamata bergaya klasik ini hingga berencana memproduksi 30 juta unit pada tahun 2026.
Dengan harga jual mulai dari 299 dolar AS atau sekitar Rp5,01 juta, potensi pendapatan yang terancam jika penjualan ini dihentikan oleh perintah pengadilan sangatlah masif, mengingat Meta baru saja merestrukturisasi divisi Reality Labs untuk lebih fokus pada perangkat wearable AI seperti kacamata pintar ini.
Di sisi lain, Solos bukanlah pemain baru di industri ini; produk mereka seperti AirGo 5 telah lebih dulu mengintegrasikan fitur ChatGPT dan terjemahan langsung, fungsi yang sangat mirip dengan apa yang ditawarkan Meta saat ini. Solos menuduh Meta sengaja menggunakan teknologi yang telah mereka patenkan bertahun-tahun sebelum Meta masuk ke pasar untuk menciptakan produk yang terlihat "normal" namun canggih.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Meta dan EssilorLuxottica belum memberikan komentar resmi terkait gugatan tersebut, namun para investor mulai mewaspadai dampak hukum ini terhadap rencana jangka panjang Meta di sektor kecerdasan buatan dan perangkat keras.