JAKARTA - Studi Kaspersky terbaru mengungkapkan bahwa semua perusahaan di seluruh dunia yang belum memiliki Pusat Operasi Keamanan (SOC), mengatakan akan membangunnya dalam waktu dekat.
Survei yang dilakukan terhadap perusahaan di 16 negara dengan, 50% perusahaan berniat membangun SOC terutama untuk memperkuat postur keamanan siber mereka, dan 45% termotivasi oleh kebutuhan untuk mengatasi ancaman yang semakin canggih dan berbahaya.
Sedangkan untuk Indonesia sendiri, lebih dari dari setengah (58%) responden di sini percaya bahwa membangun SOC dapat meningkatkan tingkat keamanan siber mereka.
Faktor pendorong sekunder meliputi optimalisasi anggaran, kebutuhan akan deteksi dan respons yang lebih cepat, serta perluasan perangkat lunak, titik akhir, dan perangkat pengguna. Hal ini disebutkan oleh 41% organisasi.
Selain itu, 40% menginginkan perlindungan yang lebih baik untuk informasi rahasia, 39% bertujuan untuk memenuhi persyaratan peraturan, dan sepertiga (33%) mengharapkan kemampuan SOC memberikan keunggulan kompetitif.
Perusahaan yang lebih besar cenderung lebih sering menyebutkan masing-masing alasan ini, yang mencerminkan tekanan operasional dan regulasi lebih luas yang mereka alami.
Namun menariknya, meskipun SOC menggunakan teknologi canggih, pilihan yang dibuat oleh organisasi menunjukkan bahwa analis manusia sangat penting.
BACA JUGA:
“Alur kerja yang terdefinisi dengan baik dan peningkatan berkelanjutan sangat penting untuk memastikan bahwa analis manusia dapat fokus pada tugas-tugas penting, menjadikan SOC sebagai komponen proaktif dan adaptif dari strategi keamanan siber mereka,” ujar Roman Nazarov, Kepala Konsultasi SOC di Kaspersky.
Menurutnya, untuk berhasil membangun SOC, perusahaan harus memprioritaskan tidak hanya perpaduan teknologi yang tepat tetapi juga perencanaan proses yang cermat, penetapan tujuan jelas, dan distribusi sumber daya yang efektif.