Bagikan:

JAKARTA - Riset Kaspersky menunjukkan mayoritas organisasi di Indonesia memilih model outsourcing atau hibrida dalam membangun Security Operations Center (SOC).

Temuan ini muncul seiring meningkatnya kompleksitas ancaman siber dan kebutuhan organisasi untuk memastikan pemantauan keamanan yang berjalan sepanjang waktu.

Dalam survei tersebut, perusahaan keamanan siber global itu menemukan ada sekitar 91% organisasi di Indonesia berencana mengalihdayakan setidaknya sebagian fungsi SOC mereka.

Dari jumlah itu, 63% memilih pendekatan hibrida, yakni menggabungkan kemampuan internal dengan dukungan eksternal. Sementara 28% organisasi siap beralih sepenuhnya ke model SOC-as-a-Service (SOCaaS).

Sebaliknya, hanya 9% organisasi yang berencana membangun SOC sepenuhnya secara internal. Angka ini menyoroti tantangan besar dalam mempertahankan pemantauan 24/7 serta menarik spesialis keamanan siber yang berkualitas.

Secara regional, tren serupa juga terlihat di Asia Pasifik. Penelitian Kaspersky menunjukkan hampir 93% organisasi di kawasan tersebut memilih outsourcing atau hibrida, dengan mayoritas (64%) lebih condong pada model campuran, sementara 29% mengadopsi SOCaaS penuh.

Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, Adrian Hia, mengatakan organisasi kini mulai beralih ke hibrida karena tim SOC dinilai bisa tetap efektif di tengah tuntutan operasional dan regulasi yang terus meningkat.

Outsourcing SOC memungkinkan organisasi mendelegasikan berbagai fungsi penting kepada penyedia eksternal, mulai dari desain dan arsitektur SOC, penerapan serta pemeliharaan teknologi, pemantauan dan analisis ancaman, hingga layanan konsultasi dan pelatihan.

Dalam survei itu, tugas yang paling sering dialihdayakan mencakup instalasi dan penerapan solusi keamanan (55%), pengembangan dan penyediaan solusi (53%), serta desain SOC (47%).

“Dengan mengalihkan tugas-tugas rutin dan teknis ke luar, organisasi dapat berkonsentrasi pada aktivitas bernilai tinggi seperti pengambilan keputusan strategis dan mengkoordinasikan respons terhadap ancaman yang canggih,” kata Sergey Soldatov, Kepala Pusat Operasi Keamanan di Kaspersky.