JAKARTA – Banyak lembaga antariksa yang menyatakan bahwa 2024 merupakan tahun terpanas, termasuk NASA. Untungnya, rekor ini tidak tercetak lagi pada tahun berikutnya.
Hingga saat ini, catatan NASA menunjukkan bahwa 2024 masih jadi tahun dengan suhu terpanas sejak tahun 1880. Catatan ini tidak mengalami perubahan sehingga 2025 dinobatkan sebagai tahun dengan suhu yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada dasarnya, suhu di 2025 tetap mencapai level tertinggi. Namun, menurut laporan NASA yang dikutip pada Kamis, 15 Januari, angka yang tercatat masih berada di bawah rekor terpanas.
Hasil penghitungan para ilmuwan menunjukkan bahwa suhu rata-rata tahun lalu sedikit lebih hangat dibandingkan tahun 2023. Akan tetapi, jika dilihat dari margin kesalahan teknisnya, rata-rata suhu tahun 2023 dan 2025 hampir berada di level yang sama.
Laporan GISS NASA mencatat suhu global 2025 berada pada 1,19 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1951 hingga 1980. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tidak melampaui 2024, tren panas Bumi masih mengkhawatirkan.
Data ini dikumpulkan dari 25.000 stasiun meteorologi, kapal laut, hingga pusat penelitian di Antartika. NASA menggunakan metode khusus untuk memastikan pengaruh panas perkotaan tidak mengacaukan hasil perhitungan akhir.
BACA JUGA:
Beberapa lembaga internasional lain seperti Berkeley Earth dan Copernicus juga merilis hasil yang serupa. Mereka sepakat menempatkan tahun 2025 sebagai tahun terpanas ketiga sepanjang sejarah.
Meski menggunakan model analisis yang berbeda, semua lembaga ini melihat adanya tren pemanasan global yang berkelanjutan. Seluruh data ini membuktikan bahwa suhu Bumi belum kembali ke titik normal.
Seluruh rincian data dan metodologi analisis NASA yang digunakan untuk mengamati suhu Bumi sudah dapat diakses melalui situs resmi GISS NASA. Publikasi daring ini diharapkan dapat membantu para peneliti dunia dalam memitigasi dampak perubahan iklim lebih lanjut.