JAKARTA – Suhu rata-rata permukaan bumi semakin mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Jika sebelumnya tahun 2023 disebut sebagai tahun terpanas menurut NASA, kini rekor baru telah terpecahkan.
Menurut hasil analisis lembaga antariksa AS itu, suhu global tahun 2024 lebih hangat 1,47 derajat celsius dibandingkan suhu rata-rata pada tahun 1850 hingga 1900. Lebih dari separuh tahun 2024 juga melebihi rata-rata suhu dasar, yaitu dengan kenaikan 1,5 derajat celsius.
Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa suhu rata-rata tahun lalu telah memecahkan rekor terpanas. Ini bukan kabar yang baik bagi masyarakat di berbagai belahan dunia karena bukti nyata pemanasan global semakin terlihat, ditambah dengan banyaknya kebakaran hutan.
"Sekali lagi, rekor suhu telah terpecahkan — 2024 adalah tahun terpanas sejak pencatatan dimulai pada tahun 1880," kata Administrator NASA, Bill Nelson. "Di antara suhu yang memecahkan rekor ... Memahami perubahan planet kita menjadi lebih penting dari sebelumnya."
Di sisi lain, Direktur Goddard Institute for Space Studies (GISS) NASA, Gavin Schmidt, mengatakan bahwa kenaikan suhu terbaru ini hampir melampaui target Perjanjian Paris. Jika suhu rata-rata global kembali mengalami kenaikan di tahun ini, emisi nol bersih akan sulit tercapai.
"Perjanjian Paris tentang perubahan iklim menetapkan upaya untuk tetap berada di bawah 1,5 derajat Celsius dalam jangka panjang," jelas Gavin. "Suhu selama periode hangat di Bumi tiga juta tahun lalu hanya sekitar 3 derajat Celsius lebih hangat dari tingkat pra-industri."
BACA JUGA:
Setiap tahunnya, tren suhu panas biasanya dipengaruhi oleh El Niño dan La Niña. Namun, kenaikan di tahun 2024 melampaui prediksi para ilmuwan. Seharusnya, tidak terjadi rekor setiap tahunnya, tetapi tren pemanasan global semakin terlihat dalam jangka panjang.
"Kita sudah melihat dampaknya dalam bentuk curah hujan ekstrem, gelombang panas, dan peningkatan risiko banjir, yang akan terus memburuk selama emisi terus berlanjut," ujar Gavin.
Untuk saat ini, ada beberapa faktor yang diperkirakan memengaruhi tren pemanasan global dalam beberapa dekade terakhir. Selain karena iklim yang mengalami fluktuasi, tren ini juga didorong oleh karbon dioksida, metana, serta gas rumah kaca.