Bagikan:

JAKARTA - Kaspersky melakukan riset terbaru, yang dilakukan terhadap 3000 responden dari 15 negara—termasuk Indonesia—untuk meneliti praktik keamanan siber yang dilakukan konsumen selama belanja online.

Selama setahun terakhir, Kaspersky mengidentifikasi hampir 6,7 juta serangan phishing yang menyamar sebagai toko online, sistem pembayaran, dan perbankan, dengan 55,6% menargetkan para konsumen belanja online.

Untungnya, 97% responden menunjukkan tingkat kesadaran substansial tentang risiko keamanan online dan menerapkan setidaknya beberapa langkah untuk melindungi transaksi digital mereka.

Secara keseluruhan, riset ini mengungkapkan bahwa 65% orang yang belanja online percaya mereka mampu mendeteksi penipuan secara mandiri, namun hanya 42% yang benar-benar menggunakan solusi keamanan untuk menjaga transaksi online mereka.

Untuk Indonesia sendiri, survei tersebut mengungkapkan bahwa 83% orang yang belanja online percaya mereka dapat mendeteksi penipuan sendiri.

Sementara itu, hanya 58% pengguna dalam negeri yang mengaku menggunakan solusi keamanan untuk melindungi pembayaran online mereka dan memblokir tautan phishing.

Adapun protokol keamanan mandiri yang paling umum diterapkan adalah kewaspadaan terhadap hyperlink yang mencurigakan atau desain situs web yang tidak biasa (65%) dan verifikasi keaslian penjual (62%).

Pakar Kaspersky menekankan bahwa meskipun praktik tersebut merupakan langkah perlindungan penting, upaya tersebut masih tergolong dasar dan belum dapat menggantikan pencegahan penipuan secara komprehensif yang ditawarkan oleh solusi keamanan.

Langkah lain yang dilakukan pebelanja online antara lain menggunakan kartu kredit terpisah untuk pembelian digital (33%) serta menggunakan alamat email terpisah saat mendaftar di toko online yang tidak dikenal (26%).

“Tetap waspada sangat penting, tetapi melindungi diri sendiri membutuhkan lebih dari sekadar kesadaran,” komentar Olga Altukhova, Analis Konten Web Senior di Kaspersky.