JAKARTA - Pada 10 Januari 2006, dalam satu momen bersejarah di ajang Macworld, Steve Jobs mengumumkan bahwa Apple resmi mengakhiri lini PowerBook yang legendaris. Sebagai gantinya, ia memperkenalkan MacBook Pro pertama yang ditenagai prosesor Intel. Dua dekade kemudian, MacBook Pro tetap menjadi salah satu produk paling penting dalam sejarah Apple.
PowerBook merupakan produk yang sangat sukses sejak pertama kali diluncurkan pada 21 Oktober 1991. Namun, setelah bertahan selama 14 tahun, 2 bulan, dan 20 hari, lini tersebut dihentikan dan digantikan oleh MacBook Pro. Keputusan itu menandai berakhirnya era laptop “Power” Apple dan dimulainya fase baru yang lebih modern.
“Ini karena kami sudah selesai dengan kata ‘power’, dan karena kami ingin ‘Mac’ ada di nama produk kami,” ujar Steve Jobs saat itu.
MacBook Pro diperkenalkan di tengah transisi besar Apple dari prosesor PowerPC ke Intel. Bertahun-tahun kemudian, laptop ini kembali memainkan peran kunci dalam transisi lain yang tak kalah penting, yakni peralihan dari Intel ke Apple Silicon.
BACA JUGA:
Pada awal kemunculannya, banyak pengguna Mac yang antusias dengan janji peningkatan performa, meski tak sedikit pula yang merasa kehilangan nama PowerBook. Baru setelah pembaruan ke prosesor Intel Core 2 Duo pada Oktober 2006, MacBook Pro benar-benar dianggap sebagai penerus yang sepadan.
Jobs menjelaskan bahwa salah satu alasan utama Apple beralih ke Intel adalah keterbatasan PowerPC G5 untuk digunakan di laptop.
“Ada satu masalah kecil yang mengganggu pada PowerBook,” kata Jobs. “Bukan rahasia lagi bahwa kami telah mencoba memasukkan G5 ke PowerBook, tetapi gagal karena konsumsi dayanya tidak realistis untuk paket sekecil itu.”
Ia menambahkan dengan gaya khasnya, “Kami sudah melakukan semua yang mungkin secara teknik. Kami bahkan berkonsultasi dengan semua otoritas tertinggi.”
Intel Core Duo, menurut Jobs, menawarkan keseimbangan yang jauh lebih baik antara performa dan daya tahan baterai. Ia mengklaim performanya empat hingga lima kali lebih cepat dibandingkan PowerBook G4.
“Ini sulit dipercaya, tapi itulah yang ditunjukkan angka-angkanya,” kata Jobs. “Empat sampai lima kali lebih cepat dari PowerBook G4. Laptop ini benar-benar kencang.”
MacBook Pro pertama hadir dengan layar 15,4 inci dan tersedia dalam dua konfigurasi. Model seharga 1.999 dolar AS dibekali prosesor Intel Core Duo 1,67 GHz, kamera iSight bawaan, RAM 512 MB, hard drive SATA 80 GB, SuperDrive 4x, kartu grafis ATI Radeon X1600, AirPort Extreme, Bluetooth, slot ExpressCard, serta konektor daya MagSafe. Sementara versi 2.499 dolar AS menawarkan prosesor 1,83 GHz, RAM 1 GB, dan penyimpanan 100 GB.
Jika disesuaikan dengan nilai uang saat ini, harga tersebut setara sekitar 3.200 hingga 4.000 dolar AS.
Salah satu fitur yang mendapat sambutan hangat kala itu adalah kamera iSight bawaan, yang memungkinkan konferensi video langsung tanpa perangkat tambahan.
“Sekarang Anda bisa melakukan konferensi video langsung dari kotaknya, dan di mana saja,” ujar Jobs. Meski resolusinya hanya 640 x 480 piksel, kehadiran kamera terintegrasi merupakan langkah besar pada masanya.
Di sisi lain, MacBook Pro juga membawa perubahan yang tidak sepenuhnya disukai pengguna. Beberapa fitur PowerBook dihilangkan, seperti port FireWire 800 dan dukungan SuperDrive untuk DVD dual-layer. Kapasitas hard drive 80 GB dan 100 GB bahkan terasa kecil, bahkan untuk standar saat itu.
Jobs menyebut MacBook Pro sebagai laptop Mac tercepat dan tertipis yang pernah dibuat Apple. Dengan ketebalan 1 inci, lebar 14,1 inci, dan kedalaman 9,6 inci, bobotnya mencapai 5,6 pon. Resolusi layarnya saat itu adalah 1.440 x 900 piksel.
Sebagai perbandingan, MacBook Pro 16 inci terbaru dengan Apple Silicon kini memiliki layar 16,2 inci beresolusi 3.456 x 2.234 piksel, ketebalan 0,66 inci, dan bobot sekitar 4,7 pon. Model saat ini ditenagai prosesor dengan minimal 10 inti CPU dan 10 inti GPU, RAM minimal 16 GB, serta penyimpanan SSD minimal 512 GB.
Meski nostalgia terhadap nama PowerBook masih terasa, kenyataannya lini tersebut juga memiliki berbagai masalah, mulai dari penarikan produk hingga isu panas berlebih. MacBook Pro pun tak sepenuhnya luput dari masalah sepanjang sejarahnya, termasuk penghapusan MagSafe dan penggunaan keyboard yang sempat menuai kritik.
Namun, sejak awal kemunculannya, MacBook Pro telah merepresentasikan lompatan besar dalam performa dan kegunaan bagi pengguna Mac. Dua puluh tahun kemudian, laptop ini kembali ke akarnya, menghadirkan inovasi besar dan tetap menjadi tulang punggung lini komputer profesional Apple.