Bagikan:

JAKARTA - Sepanjang 2025, pasar aset kripto Indonesia menunjukkan data positif. Hingga Oktober 2025, Indonesia memiliki 19,08 juta investor, dengan transaksi melampaui Rp446,77 triliun pada Januari–November.

Meski secara absolut menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar kripto terbesar, penetrasinya masih sekitar 7% dari populasi, menandakan ruang pertumbuhan masih lebar.

Namun, CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai ruang pertumbuhan Indonesia masih terbuka lebar memasuki 2026, terutama karena penetrasi kripto baru sekitar 7% dari populasi.

Apabila kondisi pasar global lebih kondusif dan minat terhadap aset berisiko kembali menguat, pertumbuhan adopsi berpeluang lebih cepat.

“Dalam skenario optimistis, jumlah investor kripto nasional dapat bertambah sekitar 7–8 juta sehingga totalnya berpotensi mendekati 26–27 juta investor. Sementara pada skenario yang lebih moderat, penambahan sekitar 4–5 juta investor dapat mendorong total investor berada di kisaran 23–24 juta hingga akhir 2026,” jelasnya.

Dari sisi aktivitas, Ia menilai, kuatnya basis transaksi sepanjang 2025 membuka peluang peningkatan nilai transaksi pada 2026, seiring tumbuhnya minat masyarakat terhadap investasi dan trading aset kripto.

“Kami berharap 2026 menjadi momentum pembalikan, sehingga nilai transaksi kembali meningkat seiring pasar yang makin matang dan partisipasi pengguna yang lebih berkualitas,” ujar Calvin.

Calvin menegaskan fokus industri ke depan tidak hanya pada pertumbuhan angka, tetapi juga pada kualitas pengguna, edukasi, keamanan, dan keberlanjutan ekosistem agar pertumbuhan tetap terjaga dalam jangka panjang