JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi di bawah 90.000 dolar AS (Rp1,51 miliar), di tengah tekanan jangka pendek dari arus keluar dana ETF dan aksi ambil untung pelaku pasar.
Koreksi ini terjadi meskipun data ekonomi Amerika Serikat mengindikasikan pelemahan pasar tenaga kerja yang berpotensi membuka ruang penurunan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS (The Fed).
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global terkoreksi sekitar 3,2% ke 3,08 triliun dolar AS, dengan tekanan juga terlihat pada Ethereum dan sejumlah altcoin utama.
Dalam pernyataan yang diterima pada Kamis, 8 Januari, analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai bahwa pergerakan ini lebih mencerminkan konsolidasi sehat setelah reli kuat.
“Data tenaga kerja AS yang melemah secara fundamental sebenarnya mendukung aset berisiko seperti Bitcoin karena meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga. Namun dalam jangka pendek, pasar masih dibayangi aksi profit taking, tekanan ETF, dan penyesuaian leverage,” ujarnya.
Tekanan pasar diperparah oleh arus keluar dana Spot Bitcoin ETF yang mencapai sekitar 243 juta dolar AS dalam satu hari, dipimpin oleh Fidelity dan beberapa manajer aset besar lainnya.
BACA JUGA:
Aktivitas penjualan dari penambang (miner) serta likuidasi posisi derivatif juga turut mempercepat koreksi, dengan lebih dari 64 juta dolar AS posisi Bitcoin terlikuidasi dalam 24 jam terakhir.
Meski demikian, Fyqieh menilai tren jangka menengah Bitcoin masih relatif terjaga selama harga mampu bertahan di atas area support utama 90.000 dolar AS (Rp1,51 miliar).
“Penolakan di resistance 94.000 dolar AS (Rp1,57 miliar) memicu koreksi teknikal. Namun selama support utama tidak ditembus, pergerakan ini lebih mengarah ke konsolidasi, bukan pembalikan tren,” jelasnya.