Bagikan:

JAKARTA - Bitcoin kembali melemah tajam ke level 86.520 dolar AS atau sekitar Rp1,44 miliar.

Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek pemotongan suku bunga The Fed pada bulan depan.

Merespons kondisi tersebut, CEO Tokocrypto, Calvin Kizana menilai bahwa penurunan pasar kripto secara global ini turut memengaruhi aktivitas perdagangan di Indonesia.

Namun, menariknya adalah meskipun nilai transaksi turun, jumlah pengguna kripto di Indonesia terus meningkat. Ini menunjukkan kepercayaan dan minat masyarakat terhadap aset digital tetap terjaga, bahkan ketika pasar sedang cooling down,” ujar Calvin dalam pernyataannya dikutip Minggu, 23 November.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi kripto di Indonesia sepanjang JanuariOktober 2025 mencapai Rp409,56 triliun, turun sekitar 13,77 persen dibanding periode yang sama pada 2024 yang mencapai Rp475 triliun.

Meski demikian, jumlah pengguna kripto di Indonesia justru meningkat menjadi 18,61 juta pada September 2025, atau naik 3,05 persen dalam satu bulan.

Rata-rata tren jumlah investor kripto meningkat di atas 3 persen setiap bulannya.

Menurut Calvin, hal ini memperlihatkan di mana investor lokal bukan lah menarik diri dari pasar, tetapi memilih untuk lebih berhati-hati dalam memasukkan dana baru.

Melihat ke depan, Calvin memproyeksikan bahwa perdagangan kripto hingga akhir 2025 kemungkinan berada dalam fase konsolidasi seiring sikap wait and see pelaku pasar global.

Faktor makro seperti kebijakan suku bunga The Fed, stabilitas geopolitik, aliran likuiditas, dan arus modal institusional akan menjadi penentu utama arah pasar beberapa kuartal mendatang,” jelasnya.

Kendati demikian, memasuki 2026, Calvin mengungkapkan bahwa pasar berpotensi bergerak lebih terarah.

Skenario penguatan dapat terjadi jika kondisi makro global membaik, termasuk potensi penurunan suku bunga, meningkatnya appetite risiko investor, serta masuknya likuiditas baru.

Namun, berbagai potensi risiko tetap harus diwaspadai. Jika tekanan makro terus berlanjut, pasar bisa bergerak sideways dengan potensi bearish yang bertahan lebih lama. Investor perlu tetap waspada, melakukan analisis, dan memahami risiko,” tutupnya.