Bagikan:

JAKARTA – Badan Antariksa Eropa (ESA) mengonfirmasi bahwa infrastruktur digital mereka mengalami peretasan data. Investigasi awal menunjukkan bahwa peretasan data ini menyerang sejumlah server sains.

Kabar peretasan ini pertama kali dilaporkan oleh akun bernama seblatombe di X, sebelumnya dikenal sebagai Twitter, pada 26 Desember lalu. Dalam postingan tersebut diketahui adanya peretas yang menggunakan nama alias 888.

Peretas itu mengaku telah mencuri data sebesar 200GB dan ingin menjualnya. Sejalan dengan pencurian ini, dokumen proyek sensitif dan kredensial akses perusahaan ikut bocor ke publik.

ESA telah melakukan analisis forensik untuk mengetahui seberapa besar dampak dari peretasan ini. Untuk saat ini, server yang terkena dampak diketahui masih berada di luar jaringan utama perusahaan.

Fasilitas yang diretas tersebut biasanya digunakan untuk kolaborasi rekayasa yang bersifat tidak rahasia. Namun, ESA tetap mengambil tindakan yang serius untuk melindungi data komunitas ilmiah mereka.

"Pada tahap ini, forensik telah mengidentifikasi sejumlah kecil server sains yang mungkin terpengaruh," kata perwakilan ESA dalam pernyataan resminya, dikutip pada Rabu, 31 Desember.

ESA telah melakukan perbaikan jangka pendek untuk mengamankan perangkat lainnya yang berpotensi diretas. Para pemangku kepentingan pun telah menerima laporan mengenai peretasan yang terjadi.

Proses analisis forensik akan terus dilanjutkan untuk memastikan keamanannya telah diperkuat secara menyeluruh. ESA mengatakan bahwa mereka akan memberikan pembaruan informasi setelah analisis selesai dilakukan.