JAKARTA – Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bagaimana iklan judi online memanfaatkan perasaan anak muda. Studi ini juga menyoroti lemahnya ekosistem digital Indonesia.
Riset yang bertajuk Judi Online di Indonesia: Kapitalisme Budaya Baru di Negara dengan Kesenjangan Digital ini dipaparkan dalam Seminar Naskah Publikasi BRIN. Kelompok rentan yang menjadi target dalam permasalahan ini adalah generasi muda dan masyarakat dengan pendapatan rendah.
Ketua Tim Penelit Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN, Nina Widyawati, menjelaskan bahwa konsumsi video online terus mengalami peningkatan dan perputaran uang digital tak jauh dari risiko penipuan. Pasalnya, digitalisasi memudahkan promosi judi online melalui konten gratis.
Menurut Nina, iklan-iklan ini kerap membangun fantasi kekayaan instan bagi anak muda. Nina menambahkan, "Anak muda yang fomo (fear of missing out) menjadi sasaran empuk karena mereka takut tertinggal dan tergoda narasi mimpi menjadi kaya secara cepat.”
BACA JUGA:
Dalam penelitiannya, tim riset BRIN menggunakan kerangka affective economy dari Sara Ahmed yang fokus pada eksploitasi emosi publik. Mereka menemukan bahwa iklan judi online mengeksploitasi emosi anak muda, mulai dari harapan mobilitas ekonomi hingga kecemasan finansial.
Eksploitasi emosi ini dapat mendorong tindakan ekonomi yang berisiko tinggi. Selain itu, BRIN juga menunjukkan regulasi digital yang masih lemah dan minimnya pengawasan lintas platform di Indonesia. Akibatnya, iklan judi online dengan mudah lolos dalam berbagai layanan digital.
Nina menegaskan bahwa fenomena ini memiliki dampak serius. Hal ini tidak hanya memengaruhi perilaku konsumsi, tetapi juga memberikan dampak buruk pada perekonomian digital. Oleh karena itu, Nina menekankan perlunya regulasi yang lebih kuat, pendekatan literasi digital baru, dan koordinasi lintas lembaga.