Bagikan:

JAKARTA - Para peneliti di Israel membuka babak baru dalam studi sejarah Yahudi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menelusuri lebih dari 400.000 manuskrip kuno dari Cairo Geniza—kumpulan dokumen Yahudi abad pertengahan terbesar di dunia.

Koleksi yang selama lebih dari satu abad diteliti secara manual ini akhirnya dapat dianalisis dengan kecepatan dan kedalaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Cairo Geniza, yang berasal dari Sinagog Ben Ezra di Kairo, menyimpan beragam dokumen berusia hingga seribu tahun, mulai dari catatan administratif, surat pribadi, responsa rabinik, hingga tulisan para filsuf besar seperti Maimonides. Tenggelam dalam tumpukan fragmentasi, banyak dokumen terserak, tidak terurut, dan belum pernah ditranskripsi, meskipun seluruh koleksi telah didigitalkan dalam bentuk gambar.

Dengan bantuan proyek MiDRASH—sebuah inisiatif yang didukung Uni Eropa dan berkolaborasi dengan berbagai universitas—para peneliti kini melatih model AI untuk membaca, mengenali, serta menyalin teks berbahasa Ibrani, Arab, Aram, hingga Yiddish dalam berbagai gaya tulisan tangan kuno. Upaya ini memungkinkan rekonstruksi dokumen yang sebelumnya sulit dipecahkan dan mempercepat penemuan-penemuan baru tentang kehidupan Yahudi pada Abad Pertengahan.

Daniel Stokl Ben Ezra dari Ecole Pratique des Hautes Etudes di Paris, salah satu peneliti utama proyek ini, menjelaskan bahwa teknologi tersebut semakin mahir dalam mengurai tulisan kuno yang sebelumnya hanya bisa dianalisis oleh para ahli naskah veteran.

Menurutnya, kemampuan baru ini membuka jalan bagi peneliti untuk melakukan pencarian cepat atas nama, istilah, atau peristiwa yang tersebar di ratusan ribu fragmen, serta menyatukan potongan dokumen yang telah tercerai-berai selama berabad-abad.

Meskipun AI menghasilkan transkripsi awal, para peneliti manusia tetap memverifikasi akurasi teks, sehingga setiap koreksi membantu model belajar dan meningkatkan kualitas bacaannya. “Kemungkinan penerjemahan modern kini begitu maju, dan menggabungkan semua ini membuat dokumen-dokumen tersebut jauh lebih mudah diakses, bahkan bagi pembaca awam,” ujar Ben Ezra.

Salah satu dokumen menarik yang berhasil ditranskripsi adalah surat berbahasa Yiddish dari abad ke-16, ditulis oleh seorang janda bernama Rachel di Yerusalem kepada putranya di Mesir. Di pinggirannya, sang anak menuliskan jawaban tentang perjuangannya bertahan hidup di tengah wabah yang melanda Kairo.

Geniza sendiri merupakan tempat penyimpanan sakral di sinagog untuk menaruh dokumen penting sebelum akhirnya dikuburkan secara ritual. Lokasi Geniza di Sinagog Ben Ezra, yang berada di lingkungan kering Kairo, memungkinkan pelestarian ribuan manuskrip ini dengan kondisi relatif baik.

Pada masa kejayaannya di Abad Pertengahan, Kairo berkembang menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan terbesar di Timur Tengah, menandingi Baghdad dan Damaskus. Kota ini menjadi rumah bagi komunitas Yahudi yang makmur, termasuk para pengungsi dari Spanyol yang jatuh ke tangan Kristen. Di sinagog inilah Maimonides—filsuf besar Yahudi sekaligus tabib keluarga Sultan Saladin—pernah beribadah.

Koleksi Cairo Geniza pertama kali ditemukan oleh para sarjana pada akhir abad ke-19, namun besarnya volume dokumen membuat sebagian besar isinya masih teka-teki hingga kini. Dengan kehadiran AI, para peneliti berharap dapat memetakan kehidupan sosial, ekonomi, hukum, hingga spiritual komunitas Yahudi selama berabad-abad. “Kemampuan untuk merekonstruksi semuanya—seolah membuat Facebook-nya Abad Pertengahan—kini benar-benar ada di depan mata kita,” kata Ben Ezra