JAKARTA - Harga emas di pasar spot anjlok lebih dari 5,3% pada Selasa, 21 Oktober ke level 4.125 dolar AS, bersamaan ketika Bitcoin justru naik signifikan dari level 107.000 dolar AS (Rp1,78 miliar) ke 113.000 dolar AS (Rp1,88 miliar).
Merespon kondisi itu, analis Reku Fahmi Almuttaqin, menilai Pasar sempat berspekulasi bahwa tren mulai berubah menjelang potensi pemangkasan suku bunga lanjutan The Fed pekan depan, 29 Oktober.
Ia menyebutkan, data dari CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga bulan ini mencapai hampir 99%, mengonfirmasi sikap dovish The Fed terhadap kondisi ekonomi global.
“Ini membuat kondisi likuiditas ketat yang ada di pasar investasi saat ini dapat segera membaik dan memberikan katalis positif bagi instrumen berisiko, sehingga narasi rotasi kapital dari emas ke Bitcoin sempat menarik banyak perhatian para trader dan investor kripto,” ujar Fahmi.
Mengingat harga emas yang sudah mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, penurunan suku bunga lanjutan dapat membuat investor memilih untuk memindahkan asetnya ke instrumen inflation hedge yang lebih berisiko seperti Bitcoin.
BACA JUGA:
Fahmi juga melihat bahwa meningkatnya kekhawatiran investor terhadap gejolak politik dan ekonomi global dapat memberikan dampak signifikan terhadap volatilitas pasar, terlepas dari potensi bullish ke depan yang cukup terbuka untuk Bitcoin.
Selain itu, Fahmi menambahkan, pandangan The Fed terkait kondisi ekonomi, yang akan dipaparkan pasca pertemuan FOMC pekan depan, juga menjadi faktor krusial yang akan diperhatikan oleh para investor.
“Dalam situasi saat ini di mana potensi pergeseran naratif bullish/bearish cukup terbuka dan ketidakpastian kembali meningkat terkait situasi ekonomi dan kebijakan perdagangan global, pengelolaan portofolio investasi secara lebih aktif dengan diversifikasi yang baik bagi investor atau trader profesional dapat berpotensi memberikan performa yang lebih optimal,” pungkasnya.