Bagikan:

JAKARTA - OpenAI mengumumkan telah memblokir sejumlah akun ChatGPT yang diduga memiliki keterkaitan dengan entitas pemerintah China, setelah pengguna akun-akun tersebut meminta chatbot tersebut untuk menyusun proposal terkait pemantauan percakapan di media sosial.

Dalam laporan ancaman publik terbarunya, perusahaan yang berbasis di San Francisco itu menyebut bahwa beberapa individu telah menggunakan ChatGPT untuk meminta rancangan alat “social media listening” serta konsep pengawasan digital lainnya—permintaan yang dinilai melanggar kebijakan keamanan nasional OpenAI.

Langkah ini menyoroti kekhawatiran baru soal penyalahgunaan kecerdasan buatan generatif, di tengah persaingan yang semakin ketat antara Amerika Serikat dan China dalam mengembangkan serta mengatur teknologi AI.

Selain akun-akun yang terhubung ke China, OpenAI juga menutup sejumlah akun berbahasa Mandarin yang diketahui menggunakan ChatGPT untuk membantu kampanye phishing dan pembuatan malware, serta meminta model AI itu meneliti otomatisasi tambahan yang dapat dilakukan melalui sistem AI China bernama DeepSeek.

Pihak Kedutaan Besar China di Amerika Serikat belum memberikan komentar atas laporan ini.

Tidak hanya itu, OpenAI juga menonaktifkan akun-akun yang diduga terkait kelompok kriminal berbahasa Rusia, yang memanfaatkan ChatGPT untuk membantu pengembangan jenis malware tertentu.

Menurut OpenAI, sejak mulai menerbitkan laporan ancaman publik pada Februari tahun 2024, mereka telah menggagalkan dan melaporkan lebih dari 40 jaringan berbahaya. Perusahaan yang didukung oleh Microsoft itu menegaskan bahwa model mereka tidak menunjukkan adanya taktik baru atau memberikan kemampuan ofensif baru kepada pelaku ancaman.

“Kami tidak menemukan bukti adanya taktik baru atau indikasi bahwa model kami memberikan kemampuan serangan yang belum pernah ada sebelumnya,” tulis OpenAI dalam laporannya.

OpenAI, yang kini memiliki lebih dari 800 juta pengguna ChatGPT per minggu, baru saja menjadi startup paling bernilai di dunia dengan valuasi mencapai 500 miliar dolar AS setelah menyelesaikan penjualan saham sekunder pekan lalu.