Bagikan:

JAKARTA - Era pemisah Teknologi Informasi (TI) dan Teknologi Operasional (OT) sudah berakhir. Kedua domain kini semakin terintegrasi, sehingga membuka peluang bisnis sekaligus menambah celah keamanan di Asia Pasifik (APAC). 

Saat ini, pasar konvergensi TI/OT Asia Pasifik bernilai 13,41 miliar dolar AS. Nilainya diproyeksikan akan melonjak menjadi 62,17 miliar dolar AS pada tahun 2030. 

Di sisi lain, konvergensi ini juga membawa risiko keamanan siber baru. Saat garis pemisah antara sistem TI dan OT makin kabur maka permukaan serangan meluas.

"Pada Q1 tahun 2025, Asia Tenggara berada di peringkat kedua dan Asia Tengah di peringkat ketiga dalam peringkat global berdasarkan persentase komputer ICS yang diblokir objek berbahaya di dalamnya," ujar Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Menurut laporan Kaspersky ICS CERT Kaspersky, pada Q2 2025 persentase komputer ICS di APAC yang terblokir objek berbahaya mencapai 23%, lebih tinggi dari rata-rata global 20,54%. 

Asia Pasifik disebut sebagai salah satu wilayah teratas dalam hal persentase virus yang terdeteksi, 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia. 

Sektor energi listrik, minyak & gas, manufaktur, hingga rekayasa menjadi yang paling terdampak, dengan negara seperti Vietnam, Tiongkok, Bangladesh, Myanmar, hingga Indonesia masuk daftar tertinggi korban serangan virus ICS. 

Untuk merespons meningkatnya ancaman yang menargetkan infrastruktur penting ini, Kaspersky mendorong penerapan kerangka kerja keamanan siber berlapis dengan Pusat Operasi Keamanan (SOC) yang lebih cerdas sebagai intinya.

Hia menjelaskan, kerangka kerjanya bisa dimulai dengan pencegahan, menggunakan perangkat intelijen ancaman seperti perlindungan merek, mesin atribusi, dan indikator kompromi untuk mengidentifikasi ancaman sebelum terjadi.

Lapisan kedua berfokus pada perlindungan melalui perangkat canggih seperti platform EDR (Endpoint Detection and Response), MDR (Managed Detection and Response), dan XDR (Extended Detection and Response), hingga layanan respons insiden, uji penetrasi, serta latihan siber. 

“Integrasi TI dan OT akan semakin cepat. Keamanan siber di Asia Pasifik harus berevolusi agar mampu menjembatani kedua domain, melindungi operasi, dan memastikan ketahanan,” tegasnya.