Bagikan:

Jakarta – Industri semikonduktor global menghadapi ancaman serius terkait pasokan tembaga di masa depan. Laporan terbaru dari PricewaterhouseCoopers (PwC) mengungkapkan bahwa sekitar 32% produksi chip dunia berisiko mengalami gangguan pasokan tembaga akibat dampak perubahan iklim pada tahun 2035.

Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan kondisi saat ini dan diperkirakan akan terus meningkat, bahkan mencapai 42 hingga 58 persen pada tahun 2050.

Tembaga merupakan bahan utama dalam pembuatan miliaran kawat kecil di dalam setiap chip semikonduktor. Meski berbagai riset untuk mencari alternatif material tengah dilakukan, hingga kini belum ada yang mampu menyaingi harga dan performa tembaga sebagai penghantar listrik utama dalam industri ini.

Salah satu penyebab utama ancaman ini adalah kekeringan yang semakin parah di negara-negara produsen tembaga. Chile, sebagai produsen tembaga terbesar di dunia, saat ini sudah menghadapi kekurangan air yang memperlambat produksi.

Laporan PwC menyebutkan bahwa pada 2035, sebagian besar dari 17 negara pemasok tembaga untuk industri chip akan berisiko terdampak kekeringan. Tak satu pun wilayah produsen chip dunia yang luput dari ancaman ini, termasuk negara-negara seperti China, Australia, Peru, Brasil, Amerika Serikat, Republik Demokratik Kongo, Meksiko, Zambia, dan Mongolia.

Krisis pasokan chip pernah terjadi beberapa tahun lalu akibat lonjakan permintaan di masa pandemi yang berbarengan dengan penutupan pabrik. Dampaknya sangat besar, melumpuhkan industri otomotif dan berbagai sektor lain yang sangat bergantung pada chip.

Menurut PwC, kelangkaan chip saat itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat turun satu persen, sementara Jerman kehilangan 2,4 persen pertumbuhan PDB.

Upaya untuk mengatasi kekurangan air telah dilakukan di beberapa negara, seperti Chile dan Peru, dengan meningkatkan efisiensi penambangan dan membangun pabrik desalinasi. Namun, solusi ini dinilai sulit diterapkan di negara-negara yang tidak memiliki akses ke laut.

PwC memperingatkan bahwa tanpa inovasi material yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim serta pengelolaan air yang lebih baik, risiko gangguan pasokan tembaga akan terus meningkat di masa depan. Diperkirakan, sekitar setengah dari pasokan tembaga di setiap negara akan berisiko pada tahun 2050, terlepas dari seberapa cepat dunia mengurangi emisi karbon.

Laporan PwC ini menjadi peringatan keras bagi para pelaku industri dan pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipasi, agar produksi chip dunia tidak terganggu parah dalam dekade-dekade mendatang.