Bagikan:

JAKARTA – LinkedIn berusaha untuk membantu para pencari kerja dengan meluncurkan banyak fitur Kecerdasan Buatan (AI). Sayangnya, tidak semua fitur AI di platformnya bisa diterima oleh para pengguna.

CEO LinkedIn, Ryan Roslansky, mengungkapkan bahwa ada satu fitur AI yang kurang diminati di platformnya, yakni Saran yang Dihasilkan AI. Fitur ini dirancang untuk memperkuat tulisan yang di-posting pengguna di profilnya.

Ketidakpopuleran fitur ini sempat membingungkan tim LindkedIn, termasuk Roslansky. Menurutnya, fitur ini akan sangat berguna sehingga para pelamar akan sering menggunakannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

"Sejujurnya, (fitur) ini tidak sepopuler yang saya kira," kata Roslansky, dikutip melalui Bloomberg pada Senin, 23 Juni. Tidak diketahui pasti mengapa fitur ini kurang populer. Rolansky berpendapat bahwa tidak semua orang tertarik untuk membuat postingan.

LinkedIn merupakan platform untuk menyusun dan menyebarkan resume pengguna secara daring. Meski beberapa orang memanfaatkan platform ini sebagai media sosial profesional, tak banyak yang ingin membuat postingan di aplikasi tersebut.

Selain itu, Roslansky berpendapat bahwa penggunaan AI masih menjadi hal buruk di mata sebagian besar pengguna. Jika pengguna diketahui membuat postingan yang dihasilkan AI, mereka dapat menerima kritikan keras dari pengguna lain.

"Jika Anda ditegur di X atau TikTok, itu satu hal (yang biasa)," jelas Roslansky. "Namun, jika Anda ditegur di LinkedIn, itu benar-benar memengaruhi kemampuan Anda untuk menciptakan peluang ekonomi bagi diri sendiri."