Bagikan:

JAKARTA– Perusahaan media sosial milik mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Trump Media & Technology Group (TMTG), mengumumkan rencana untuk melakukan merger dan akuisisi (M&A) sebagai bagian dari strategi diversifikasi ke sektor-sektor baru seperti layanan keuangan.

Dalam surat kepada para pemegang saham, CEO TMTG, Devin Nunes, menyatakan bahwa perusahaan "terus memburu aset-aset berkualitas tinggi" untuk memperluas jangkauan bisnisnya. TMTG saat ini mengoperasikan platform media sosial dan streaming Truth Social, namun berambisi menjadi perusahaan induk yang menaungi berbagai produk dan layanan lainnya.

Pada bulan April lalu, perusahaan mengungkapkan telah mencapai kesepakatan mengikat untuk meluncurkan berbagai produk investasi ritel, termasuk aset kripto. Langkah ini menuai perhatian dari lembaga pengawas etika pemerintah karena potensi konflik kepentingan yang mungkin muncul.

Per akhir kuartal pertama 2025, Trump Media memiliki total kas, setara kas, dan investasi jangka pendek senilai 759 juta dolar AS (Rp12,5 triliun), sementara total liabilitasnya tercatat sebesar 27,2 juta dolar AS (Rp450,1 milliar).

"Dengan tingkat likuiditas ini, serta biaya operasional dan tingkat pembakaran kas yang rendah, Trump Media memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan rencana ekspansinya," demikian isi pernyataan resmi perusahaan. Rencana tersebut mencakup peningkatan platform yang sudah ada, diversifikasi ke sektor teknologi finansial (fintech) dan layanan keuangan, serta melakukan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi.

Dalam periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret, pendapatan bersih Trump Media meningkat lebih dari 6% menjadi 8,2 juta dolar AS, sementara kerugian bersihnya menyusut menjadi  31,7 juta dolar AS.

Meski begitu, pergerakan saham Trump Media tetap stabil dalam perdagangan setelah jam bursa.

Langkah ini menandai ambisi Donald Trump dan timnya untuk memperluas pengaruhnya di luar ranah media sosial dan memasuki industri keuangan, dengan potensi dampak signifikan pada lanskap bisnis teknologi dan politik Amerika Serikat ke depan.