Bagikan:

JAKARTA – Bitcoin mengalami penurunan tajam hingga mencapai level terendah sejak November 2024 dan bersiap untuk mencatatkan penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari dua tahun. Penurunan ini terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di saham teknologi akibat kekhawatiran tarif dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, serta sentimen negatif yang diperburuk oleh peretasan senilai 1,5 miliar dolar AS (Rp24,75 triliun) dan ketidakpastian kebijakan kripto di Amerika Serikat.

Mata uang kripto terbesar di dunia berdasarkan nilai pasar ini turun hingga 7% pada Jumat 28/Februari ke level 78.273 (Rp1,29 miliar), level terendah sejak 10 November, dan berada di jalur pelemahan selama lima hari berturut-turut. Secara keseluruhan, Bitcoin telah kehilangan 16% dalam sepekan terakhir, menjadikannya penurunan mingguan terbesar sejak runtuhnya bursa kripto FTX pada November 2022. Menurut data Coingecko, pasar kripto secara keseluruhan telah kehilangan hampir setengah triliun dolar (Rp8.250 triliun) dalam satu minggu terakhir.

Faktor Pemicu Kejatuhan Bitcoin

Analis senior di City Index, Matt Simpson, mengungkapkan bahwa tekanan inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi yang melemah, serta kebijakan tarif dari Presiden AS Donald Trump, telah menekan pasar kripto.

"Tekanan inflasi semakin tinggi, prospek pertumbuhan melemah, dan tarif Trump tetap berlaku. Selain itu, perhatian Trump tidak terfokus pada deregulasi kripto, sehingga para pedagang Bitcoin merasa tidak senang," ujar Simpson.

Bitcoin sering kali bergerak sejalan dengan aset berisiko seperti saham teknologi, yang cenderung naik saat investor optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi. Indeks Nasdaq yang sarat dengan saham teknologi juga mengalami penurunan ke level terendah sejak November 2024.

Investor khawatir bahwa daya tarik ekonomi AS mulai memudar dan kebijakan tarif Trump dapat memicu inflasi global yang lebih tinggi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi. Selain itu, hasil keuangan perusahaan AI raksasa Nvidia juga dinilai negatif oleh investor, menambah tekanan pada pasar teknologi dan kripto.

Dampak Kebijakan dan Sentimen Pasar

Situasi saat ini sangat kontras dengan kondisi pada pertengahan Januari 2025, ketika Bitcoin hampir menyentuh level 110.000 dolar AS (Rp1,82 miliar) berkat optimisme bahwa pemerintahan Trump akan mendukung dana strategis Bitcoin dan melonggarkan regulasi.

Namun, selain sejumlah pengangkatan pejabat pro-kripto di awal pemerintahannya, tidak ada kebijakan konkret yang diumumkan untuk mendukung industri kripto. Akibatnya, Bitcoin kini telah turun sekitar 20% dari level tertingginya.

"Penurunan harga Bitcoin menunjukkan bahwa sentimen positif dari administrasi yang pro-kripto dan dukungan tokoh-tokoh terkenal telah berakhir," ujar Joshua Chu, Co-Chair dari Hong Kong Web3 Association. "Jelas bahwa Bitcoin adalah aset berisiko, bukan lindung nilai terhadap inflasi atau emas digital seperti yang sering diklaim."

Sementara itu, Ethereum (Ether), mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, turun 6% ke level 2.149,38 (Rp35,46 juta), level terendah sejak Januari 2024.

Token digital yang terkait dengan Trump juga mengalami penurunan drastis. Token "TRUMP" yang diluncurkan setelah ia menjabat telah kehilangan 50% nilainya, sementara token "MELANIA" milik istrinya telah merosot hingga 90%.

Dampak Peretasan Bybit

Investor juga mulai menarik dana mereka dari exchange-traded funds (ETF) Bitcoin. ETF Bitcoin yang terdaftar di AS mengalami arus keluar sebesar 2,27 miliar dolar AS (Rp37,46 triliun) dalam seminggu terakhir.

Analis Bank of America dalam catatan mereka pada Jumat 28 Februari  menyebutkan bahwa harga rata-rata harian Bitcoin yang kesulitan menembus level 97.000 dolar AS (Rp1,6 miliar) sejak November merupakan tanda awal dari "bubble kripto" yang mulai pecah.

Sebagian besar hype dalam industri kripto selama beberapa tahun terakhir berasal dari influencer muda dan pengusaha teknologi yang kerap dijuluki sebagai "crypto bros". Namun, dengan memburuknya sentimen pasar, euforia tersebut tampaknya mulai memudar.

Selain faktor makroekonomi, pasar kripto juga diguncang oleh peretasan besar-besaran di bursa kripto Bybit yang berbasis di Dubai. Pekan lalu, Bybit mengonfirmasi bahwa peretas mencuri Ethereum senilai sekitar 1,5 miliar dolar AS (Rp24,75 triliun), yang diduga sebagai peretasan kripto terbesar dalam sejarah.

"Ini adalah kombinasi dari berbagai faktor makro, termasuk tarif yang lebih tinggi, ketidakpastian geopolitik, serta peretasan Bybit yang semakin mengikis kepercayaan investor," kata Reuben Conceicao, Chief Strategy Officer di perusahaan dompet digital Metasig.

Dampak pada Saham Terkait Kripto

Penurunan harga Bitcoin juga berdampak pada saham perusahaan yang terkait dengan industri kripto di perdagangan pra-pasar AS.

Saham Coinbase Global, bursa kripto terbesar di AS, turun 2,3%. Perusahaan yang dikenal sebagai pembeli Bitcoin terbesar, MicroStrategy, juga mengalami penurunan serupa.

Selain itu, saham perusahaan penambang kripto seperti Riot Platforms Inc  dan MARA Holdings  masing-masing anjlok sekitar 3,5%.

Dengan kondisi pasar yang terus bergejolak, investor kini menanti langkah selanjutnya dari pemerintahan Trump dan perkembangan makroekonomi yang dapat memengaruhi arah pergerakan Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan