Bagikan:

JAKARTA – Industri kripto kembali semarak menyusul laporan terbaru dari HashKey Group, perusahaan aset digital terkemuka asal Hong Kong, yang memprediksi harga Bitcoin dapat melampaui 300.000 dolar AS atau setara Rp4,8 miliar pada tahun 2025. 

Prediksi optimistis ini muncul di tengah lonjakan harga Bitcoin yang sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di angka 108.267 dolar AS (sekitar Rp1,75 miliar) beberapa pekan lalu.

Laporan HashKey Group didasarkan pada survei terhadap sekitar 50.000 anggota komunitas kripto. Dalam survei tersebut, Bitcoin dijuluki sebagai “emas digital,” sebuah julukan yang menekankan posisinya sebagai aset tahan inflasi dan terdesentralisasi, menjadikan BTC sebagai alternatif investasi yang menarik bagi investor institusional. 

Ketertarikan investor institusional ini semakin terlihat dari langkah Wall Street yang semakin gencar berinvestasi di aset kripto melalui instrumen Exchange Traded Fund (ETF) dan diversifikasi portofolio.

CEO HashKey Group, Dr. Xiao Feng, mengungkapkan keyakinannya terhadap potensi pertumbuhan pasar kripto. Ia memperkirakan kapitalisasi pasar aset kripto global dapat mencapai 10 triliun dolar AS (sekitar Rp162 kuadriliun) pada akhir tahun ini, melonjak signifikan dari nilai saat ini yang berada di kisaran 3,64 triliun dolar AS (sekitar Rp59 kuadriliun).

Beberapa faktor utama mendorong peningkatan minat terhadap Bitcoin, antara lain inflasi, ketidakstabilan geopolitik, dan devaluasi mata uang fiat. Kombinasi faktor-faktor ini menjadikan Bitcoin sebagai opsi investasi yang semakin dilirik oleh investor individu maupun institusi.

Selain Bitcoin, HashKey Group memprediksi aset kripto nomor dua, Ethereum, diprediksi akan mengalami pertumbuhan positif. Nilai Ethereum diperkirakan dapat mencapai 8.000 dolar (sekitar Rp129,6 juta) pada akhir tahun 2025. Pertumbuhan kedua aset kripto utama ini menandakan booming pasar yang membuka peluang investasi menarik bagi para investor.