Bagikan:

JAKARTA - Pameran teknologi Consumer Electronics Show (CES) 2025 baru saja berakhir, menghadirkan berbagai inovasi futuristik dari perusahaan teknologi di seluruh dunia. Meskipun banyak produk baru yang menjanjikan, tidak sedikit yang justru membuat bingung karena keanehan konsepnya.

Berikut adalah beberapa produk terburuk dan teraneh yang dipamerkan di CES 2025, dari gitar tanpa senar hingga mesin cuci dengan kecerdasan buatan yang terasa terlalu ambisius.

Gitar Tanpa Senar - LiberLive C1

LiberLive C1 adalah gitar futuristik yang mencoba menghilangkan elemen paling ikonis dari gitar tradisional, yaitu senar. Meskipun dirancang untuk memudahkan pemula yang ingin belajar bermain gitar, konsep ini mendapat banyak kritik karena dianggap menghilangkan "jiwa" dari instrumen tersebut.

Secara desain, gitar ini menyerupai kontroler permainan video seperti Guitar Hero, lengkap dengan tombol-tombol untuk menggantikan senar. Namun, bagi pemain gitar berpengalaman, menggunakan LiberLive C1 justru memerlukan proses pembelajaran ulang.

Hal ini membuatnya kurang menarik, terutama dengan harga yang mencapai lebih dari 500 dolar AS (Rp8,2 juta). Sementara itu, performa gitar ini juga tidak mampu membuktikan keunggulannya, bahkan saat dimainkan oleh profesional di pameran.

Gitar ini mungkin cocok untuk pemula yang benar-benar ingin mencoba sesuatu yang baru, tetapi harganya yang mahal dan desainnya yang canggung membuatnya sulit bersaing dengan gitar tradisional.

Mesin Cuci AI - Samsung Bespoke AI Laundry Combo

Samsung telah mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam berbagai produknya selama beberapa tahun terakhir, termasuk mesin cuci. Namun, mesin cuci Samsung Bespoke AI Laundry Combo di CES 2025 dianggap melangkah terlalu jauh. Fitur utamanya adalah kemampuan AI untuk menyesuaikan siklus pencucian berdasarkan jenis kain.

Kedengarannya canggih, tetapi banyak orang meragukan seberapa besar manfaat yang sebenarnya diberikan oleh teknologi ini. Bahkan dengan mesin cuci pintar yang sudah ada saat ini, fitur seperti pengaturan khusus atau konektivitas aplikasi jarang digunakan oleh pengguna. Tambahan lainnya, mesin ini memiliki fitur untuk menerima panggilan telepon. Fitur ini justru dianggap tidak perlu dan berlebihan.

Dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan mesin cuci konvensional, banyak yang merasa bahwa teknologi AI ini tidak memberikan nilai tambah yang signifikan.

Toaster Pengisi Daya - Swippitt

Swippitt memperkenalkan perangkat yang terlihat seperti toaster besar tetapi dirancang untuk mengganti baterai ponsel dengan cepat. Konsep ini menawarkan solusi bagi pengguna yang membutuhkan daya penuh dalam waktu singkat. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, perangkat ini hanya bekerja dengan baterai khusus yang dirancang oleh Swippitt, sehingga membatasi penggunaannya.

Cara kerjanya cukup sederhana: pengguna memasukkan ponsel ke dalam perangkat, yang kemudian mengganti baterai dengan yang sudah terisi penuh. Namun, proses ini memerlukan casing baterai khusus dan perangkat besar yang memakan banyak ruang. Dengan harga 500 dolar AS, banyak yang menganggap bahwa produk ini tidak menawarkan keuntungan yang cukup untuk menutupi kekurangannya. Alternatif seperti baterai MagSafe atau power bank dianggap lebih praktis dan terjangkau.

Toaster pengisi daya ini mungkin berguna di lingkungan komersial, seperti toko ritel yang menggunakan ponsel untuk inventaris atau sistem pembayaran. Namun, untuk penggunaan pribadi, produk ini terasa terlalu rumit dan mahal.

Jaket Pengisi Daya Tenaga Surya - Anker Solix

Anker, yang dikenal sebagai produsen perangkat pengisi daya berkualitas, mencoba masuk ke pasar fesyen dengan jaket pengisi daya tenaga surya. Sayangnya, produk ini dianggap tidak praktis dan kurang menarik secara visual. Jaket ini dilengkapi dengan panel surya besar yang dirancang untuk mengisi daya perangkat saat pengguna berada di luar ruangan.

Namun, efektivitas jaket ini diragukan. Panel surya tidak bisa sepenuhnya terkena sinar matahari secara bersamaan, terutama jika pengguna mengenakan ransel atau berjalan di bawah naungan. Selain itu, desain jaket ini terlihat kaku dan kurang nyaman untuk digunakan sehari-hari.

Alternatif seperti panel surya portabel yang bisa digantung di ransel dianggap lebih praktis dan fleksibel. Meskipun konsepnya menarik, jaket ini masih jauh dari sempurna untuk digunakan secara luas.

Robot Tas Berbulu - Mirumi

Mirumi adalah robot kecil yang dirancang untuk menempel di tas atau dompet. Robot ini memiliki perilaku unik, seperti "menyembunyikan wajahnya" saat seseorang mendekat, yang dirancang untuk membuatnya terlihat malu. Meskipun imut, produk ini dianggap aneh dan tidak memiliki fungsi yang jelas.

Robot ini dilengkapi dengan sensor jarak untuk mendeteksi pergerakan orang di sekitarnya. Namun, pada akhirnya, Mirumi lebih terlihat seperti mainan atau barang koleksi daripada perangkat yang benar-benar berguna. Dengan harga 70 dolar AS, Mirumi mungkin menarik bagi mereka yang mencari sesuatu yang lucu dan unik, tetapi tidak banyak nilai praktis yang ditawarkan oleh produk ini.

Kacamata Pintar

Kacamata pintar telah menjadi salah satu fokus inovasi di CES selama beberapa tahun terakhir, tetapi produk-produk yang dipamerkan di CES 2025 masih jauh dari kata sempurna. Banyak kacamata pintar yang hadir dengan desain canggung, harga mahal, dan fitur yang belum cukup matang untuk menarik minat konsumen umum.

Salah satu masalah utama adalah kesulitan menyeimbangkan fungsi indoor dan outdoor. Kacamata dengan lensa transisi belum cukup cepat untuk beradaptasi, sehingga pengguna seringkali harus memilih antara kacamata untuk penggunaan dalam ruangan atau luar ruangan. Selain itu, banyak kacamata pintar yang masih terlihat besar dan berat, sehingga kurang nyaman untuk penggunaan sehari-hari.

Namun, ada beberapa pengecualian yang menarik perhatian. Misalnya, Even Realities G1, yang terlihat seperti kacamata biasa dengan bingkai titanium tipis dan layar kecil di dalamnya. Kacamata ini mampu menampilkan teks sederhana untuk navigasi atau terjemahan secara real-time. Produk lain, seperti Chamelo, memungkinkan pengguna untuk mengubah tingkat kegelapan atau warna lensa sesuai kebutuhan.

Meskipun demikian, kacamata pintar secara keseluruhan masih dianggap terlalu mahal dan belum cukup praktis untuk penggunaan sehari-hari. Teknologi ini mungkin memiliki masa depan cerah, tetapi saat ini masih terasa seperti gimmick.

CES 2025 menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu berjalan mulus. Banyak produk yang mencoba menghadirkan konsep baru, tetapi gagal memberikan nilai tambah yang signifikan atau justru terasa terlalu rumit. Dari gitar tanpa senar hingga mesin cuci AI dan toaster pengisi daya, produk-produk ini menjadi contoh bahwa teknologi canggih tidak selalu berarti relevan atau praktis.

Namun, di balik keanehan ini, CES tetap menjadi platform penting untuk menguji batasan teknologi dan memperkenalkan ide-ide baru. Kita hanya bisa berharap bahwa inovasi berikutnya akan lebih berfokus pada kegunaan dan kebutuhan nyata pengguna