Starknet Hadapi Kontroversi Airdrop Token STRK
Starknet, layer-2 Ethereum. (Foto; Dok. Forklog)

Bagikan:

JAKARTA - Starknet, platform layer-2 Ethereum, sedang menghadapi kontroversi terkait airdrop token STRK yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Airdrop ini ditujukan untuk memberi penghargaan kepada berbagai pengguna awal Starknet dan Ethereum, tetapi mendapat kritik dari beberapa pihak yang merasa tidak mendapat alokasi yang adil.

Starknet Foundation, organisasi nirlaba yang dibentuk untuk mendukung pengembangan Starknet, mengumumkan bahwa mereka akan mendistribusikan 700 juta token STRK melalui mekanisme yang disebut “provisions”. Provisions adalah klaim token yang dapat ditukar dengan token STRK yang sebenarnya setelah token tersebut dapat ditransfer antar dompet.

Provisions dapat diklaim oleh pengguna yang memenuhi kriteria tertentu, seperti pengguna Starknet yang aktif, pengembang Starknet, pengguna StarkEx yang merupakan protokol pertukaran berbasis Starknet, kontributor protokol Ethereum, staker Ethereum, dan pengembang proyek open-source non-kripto tertentu.

Proses klaim provisions dimulai pada 20 Februari 2024 pukul 19.00 WIB dan akan berlangsung hingga 20 Juni 2024. Pengguna yang berhak mendapatkan provisions dapat mengunjungi halaman klaim di situs web resmi Starknet dan menghubungkan dompet mereka untuk melihat jumlah token yang dapat mereka klaim.

BACA JUGA:


Namun, sejak pengumuman airdrop ini, Starknet mendapat banyak keluhan dari komunitas kripto. Beberapa keluhan yang muncul di antaranya alokasi token untuk staker Ethereum terlalu kecil, hanya sekitar 0,5% dari total pasokan token STRK.

Alokasi token untuk pengguna Starknet yang aktif terlalu rumit, karena menggunakan rumus yang melibatkan jumlah transaksi, volume transaksi, durasi aktivitas, dan saldo akun, alokasi token untuk kontributor protokol Ethereum tidak jelas, karena tidak ada kriteria yang spesifik untuk menentukan siapa yang termasuk kontributor, dan beberapa keluhan lainnya.

Starknet Foundation mengakui bahwa ada beberapa masalah teknis dan kesalahan dalam proses airdrop ini, dan berjanji untuk memperbaikinya secepat mungkin. Mereka juga mengatakan bahwa mereka akan mengumumkan inisiatif baru yang disebut “DeFi Spring”, yang bertujuan untuk memberikan insentif tambahan kepada pengguna dan pengembang yang berpartisipasi dalam ekosistem Starknet.

Starknet Foundation menegaskan bahwa mereka selalu berkomitmen untuk transparansi dan keterbukaan dalam setiap keputusan yang mereka buat. Mereka juga mengatakan bahwa airdrop ini bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk membangun jaringan layer-2 yang aman, terukur, dan terdesentralisasi.

Token STRK adalah token utilitas yang digunakan untuk membayar biaya gas, berpartisipasi dalam tata kelola, dan mendapatkan bagian dari pendapatan jaringan. Token ini diluncurkan di Ethereum Mainnet pada November 2022, tetapi saat ini tidak dapat ditransfer antar dompet. Starknet Foundation berencana untuk mengaktifkan fungsi transfer token pada kuartal kedua tahun 2024.

Saat ini, token STRK belum tersedia di bursa manapun, tetapi sudah diperdagangkan di pasar sekunder dengan harga yang bervariasi. Berdasarkan data dari Xe, satu token STRK setara dengan  2,01 dolar AS (Rp 31.417,66) pada 19 Februari 2024. Dengan demikian, valuasi token STRK mencapai sekitar  20 miliar dolar AS (Rp 313 triliun), menjadikannya salah satu proyek layer-2 terbesar di dunia.