Bagikan:

JAKARTA - Bank terbesar di China, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), membayar tebusan kepada para penjahat siber yang meretas sistem mereka pekan lalu. Pernyataan muncul dato perwakilan dari kelompok ransomware Lockbit pada Senin, 13 November. Namun kabar ini belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Cabang ICBC di Amerika Serikat menjadi korban serangan ransomware yang mengganggu perdagangan di pasar obligasi Amerika Serikat pada Kamis, 9 November. 

"Mereka membayar tebusan, kesepakatan selesai," kata perwakilan Lockbit kepada Reuters melalui aplikasi pesan online Tox. ICBC belum memberikan tanggapan atas laporan itu.

Serangan ransomware ini terjadi pada saat kekhawatiran meningkat tentang ketahanan pasar obligasi, yang merupakan bagian penting dari sistem keuangan global.

Pembekuan pada broker-dealer ICBC di Amerika Serikat membuatnya sementara waktu berhutang kepada BNY Mellon sebesar 9 miliar dolar AS, jumlah yang jauh lebih besar dari modal bersihnya.

Serangan ini begitu luas sehingga email perusahaan di perusahaan tersebut berhenti berfungsi, dan memaksa karyawan beralih ke email Google.

"Pasar sebagian besar sudah kembali normal sekarang," kata Zhiwei Ren, seorang manajer portofolio di Penn Mutual Asset Management.

Lockbit telah meretas beberapa organisasi terbesar di dunia dalam beberapa bulan terakhir, mencuri dan membocorkan data sensitif dalam kasus di mana korban menolak membayar tebusan.

Dalam waktu tiga tahun, kelompok ini telah menjadi ancaman ransomware terbesar di dunia, menurut pejabat AS. Di Amerika Serikat, dampaknya sangat merugikan, menyerang lebih dari 1.700 organisasi Amerika di hampir setiap sektor, mulai dari layanan keuangan dan makanan hingga sekolah, transportasi, dan departemen pemerintah.

Minggu lalu, para peretas Lockbit mempublikasikan data internal dari raksasa aerospace Boeing dan menyatakan di situs web mereka bahwa mereka telah menginfeksi sistem komputer di firma hukum Allen & Overy yang berbasis di London.