Bagikan:

JAKARTA - Harga kerap dianggap sebagai salah satu pengganjal orang untuk beralih ke mobil listrik. Namun, temuan terbaru justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks, di mana konsumen lebih mengkhawatirkan jarak tempuh dan waktu pengisian daya ketimbang banderol harga kendaraan listrik (EV).

Hal itu terungkap dalam Studi Konsumen Otomotif Global 2026 yang dirilis Deloitte. Survei ini melibatkan lebih dari 28.500 responden dari 27 negara dan dilakukan pada Oktober–November 2025, seperti dilansir Insideevs, Jumat, 9 Januari.

Hasilnya, sebanyak 47 persen responden di Amerika Serikat menyebut jarak tempuh sebagai alasan utama mereka ragu membeli EV. Kekhawatiran berikutnya adalah waktu pengisian daya (44 persen), sementara biaya keseluruhan berada di posisi ketiga dengan 40 persen.

Minat masyarakat Amerika terhadap kendaraan listrik murni pun terbilang stagnan. Niat pembelian EV hanya naik tipis dari 5 persen pada 2024 menjadi 7 persen pada 2025.

Sebaliknya, kendaraan berbahan bakar konvensional masih mendominasi pilihan dengan porsi 61 persen, disusul hybrid dan plug-in hybrid (PHEV) sebesar 26 persen. Meski demikian, EV tetap memiliki daya tarik tersendiri.

Sebanyak 52 persen responden mengaku biaya operasional yang lebih rendah menjadi alasan utama mempertimbangkan peralihan ke kendaraan listrik. Keuntungan ini paling terasa bagi pemilik EV yang bisa mengisi daya di rumah, bukan bergantung pada stasiun pengisian umum.

Masalahnya, realitas di lapangan belum sepenuhnya mendukung. Walau 77 persen responden berencana mengisi daya di rumah, lebih dari separuhnya, atau sekitar 53 persen mengaku belum memiliki akses ke pengisi daya rumah khusus.

Kondisi ini menegaskan bahwa infrastruktur pengisian masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi ekosistem kendaraan listrik. Berakhirnya insentif pajak federal di AS juga memberi dampak nyata.

Data Cox Automotive mencatat pangsa penjualan EV turun tajam, dari 11,6 persen pada September menjadi 5,8 persen pada Oktober, bulan pertama tanpa insentif tersebut. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan Januari (7,7 persen) dan Mei (6,9 persen).

Kendati penjualan melambat, pasar EV belum kehilangan arah. Kehadiran model-model yang lebih terjangkau, seperti Chevrolet Bolt, Equinox EV, Nissan Leaf, hingga varian standar Tesla Model 3 dan Tesla Model Y memberi alternatif menarik bagi konsumen yang ingin beralih ke listrik tanpa merogoh kocek lebih dari 40.000 dolar AS.

Menariknya, studi ini juga mencatat pergeseran perilaku konsumen, di mana sebanyak 53 persen responden mengaku tidak lagi loyal pada satu merek. Kualitas menjadi alasan utama berpindah merek (58 persen), diikuti performa (51 persen) dan harga (46 persen).

Selain itu, fitur pembaruan perangkat lunak over the air kian diminati, dengan 62 persen responden menyatakan bersedia membayar lebih untuk kendaraan yang performanya bisa meningkat seiring waktu. Kesimpulannya, konsumen mobil di Amerika tidak sepenuhnya menolak kendaraan listrik.

Mereka hanya bersikap realistis menunggu EV yang benar-benar praktis, efisien, dan didukung infrastruktur memadai. Inilah yang turut menjelaskan mengapa kendaraan hybrid dan PHEV justru kian populer, sembari pasar EV murni terus mencari momentumnya di tahun 2026.