Bagikan:

JAKARTA – GAC Group asal China telah resmi mengoperasikan jalur produksi perdana untuk sel baterai solid-state berkapasitas besar yang ditujukan bagi kendaraan listrik. Langkah ini memperoleh perhatian global sebagai salah satu tonggak penting dalam pengembangan teknologi baterai kendaraan listrik berbasis solid-state.

Direktur Riset R&D Qi Hongzhong, mengatakan bahwa sel baterai solid-state tersebut kini memiliki densitas energi yang hampir dua kali lipat dibandingkan baterai lithium-ion konvensional. Kapasitas arealnya mencapai hingga 7,7 mAh/cm², naik dari kurang dari 5 mAh/cm² pada baterai basah tradisional.

Lebih lanjut, metode anoda kering (dry anode) yang menggabungkan pencampuran slurry, pelapisan, dan penggulingan ke dalam satu langkah telah diterapkan dalam proses produksi. Jadi sebuah inovasi yang memungkinkan efisiensi lebih tinggi dan pengurangan konsumsi energi dalam pembuatan sel.

Dengan teknologi ini, GAC Group memperkirakan bahwa kendaraan listrik yang saat ini memiliki jarak tempuh sekitar 500 km dalam sekali pengisian bisa saja meningkat menjadi lebih dari 1.000 km. Sebagaimana dilansir dari Arena EV, Rabu, 26 November.

Meski demikian, tahap komersialisasi masih dalam perjalanan. Produksi skala kecil untuk sel kendaraan telah dimulai, dan integrasi ke kendaraan rencananya akan dilakukan melalui uji coba pada 2026.

Setelah itu, GAC Group menargetkan produksi massal secara bertahap dimulai antara 2027 hingga 2030. Penerapan produksi skala besar untuk baterai solid-state seperti ini menghadirkan sejumlah tantangan, termasuk pengamanan rantai pasokan material elektrolit padat serta validasi performa jangka panjang dalam berbagai kondisi lingkungan.

Dengan diluncurkannya jalur ini, GAC Group menempatkan dirinya dalam posisi strategis dalam persaingan global baterai kendaraan listrik. Dengan jangkauan seperti ini, pengemudi pada umumnya mungkin hanya perlu mengisi daya kendaraan listrik mereka sekali atau dua kali sebulan.