Bagikan:

JAKARTA - Raksasa otomotif Jepang, Toyota, tengah mereorganisasi produksi untuk merek mewahnya, Lexus, di Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap kekhawatiran terkait tarif impor AS, yang mendorong perusahaan untuk menyederhanakan lokasi produksi kendaraan Lexus.

Menurut laporan terbaru dari Nikkei Asia, diteruskan Autoblog, Rabu, 10 September, Toyota berencana mengurangi jumlah pabrik yang memproduksi kendaraan Lexus. Saat ini, dua model Lexus dibuat di AS: sedan ES di Kentucky dan SUV TX di Indiana. Namun, sumber yang berbicara dengan publikasi bisnis Jepang tersebut menyebutkan bahwa Toyota akan menghentikan produksi Lexus ES di pabrik Kentucky setelah pesanan untuk model saat ini terpenuhi. Generasi baru ES, baik versi bensin maupun listrik, akan diekspor langsung dari Jepang mulai tahun 2026.

Dengan perubahan ini, Toyota Motor Manufacturing Indiana (TMMI) akan menjadi satu-satunya pabrik di AS yang membuat model Lexus. Sementara itu, produksi di pabrik Kanada akan terus berlanjut, termasuk untuk model RX dan NX yang populer.

Keputusan ini juga sejalan dengan upaya Toyota untuk meningkatkan produksi kendaraan hybrid di AS. Pabrik Kentucky, salah satu yang terbesar di dunia, akan menggeser fokusnya untuk memproduksi model-model hybrid populer seperti sedan Camry dan crossover RAV4. Data dari Toyota Motor North America menunjukkan penjualan kedua model ini melonjak signifikan pada Agustus 2025. Penjualan RAV4 naik 20 persen menjadi 42.311 unit, sementara Camry naik 14 persen menjadi 28.523 unit.

Relokasi produksi ini disebut-sebut sebagai respons utama terhadap kebijakan tarif administrasi Trump. Meskipun tarif impor mobil Jepang turun menjadi 15 persen dari sebelumnya 25 persen, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dari tarif 2,5 persen yang biasa dinikmati Toyota. Karena membangun pabrik baru akan memakan waktu dan biaya, Toyota memilih untuk menyederhanakan produksi domestik dan tetap mengimpor beberapa model Lexus dari Jepang.