JAKARTA - Dunia otomotif global tengah menyoroti dua raksasa Jepang, Toyota dan Honda. Keduanya diperkirakan segera melaporkan hasil pendapatan kuartal pertama yang melemah signifikan, sebuah gambaran nyata dari tekanan yang mereka hadapi akibat ketidakpastian pasar global.
Menurut perkiraan analis, dilaporkan Reuters, Selasa, 5 Agustus, Toyota Motor sebagai produsen mobil terlaris di dunia diproyeksikan mencatat penurunan laba operasional sebesar 31 persen. Ini akan menjadi hasil kuartalan terlemah pabrikan dalam lebih dari dua tahun. Sementara itu, Honda Motor diperkirakan mengalami penurunan yang lebih dalam, dengan laba operasional diperkirakan anjlok 36 persen, menandai penurunan kuartalan kedua berturut-turut.
BACA JUGA:
Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh dua faktor utama: tarif impor AS dan penguatan mata uang yen. Meskipun kedua perusahaan mendapatkan sedikit angin segar dari kesepakatan dagang bilateral yang menurunkan tarif impor mobil Jepang dari total 27,5 persen menjadi 15 persen, dampak dari tekanan ini masih sangat terasa.
Namun, di tengah tantangan tersebut, ada secercah harapan. Permintaan terhadap kendaraan hybrid tetap kuat, terutama di pasar AS. Ini menjadi penyelamat bagi Toyota, yang mencatat peningkatan penjualan global sebesar 6 persen di semester pertama tahun ini, didukung oleh popularitas model hybrid seperti Camry dan Sienna.
Berbeda dengan Toyota, Honda harus menghadapi penurunan penjualan global sebesar 5 persen yang terseret oleh melemahnya pasar di Tiongkok, Asia, dan Eropa. Menanggapi situasi ini, Honda telah mengambil langkah strategis dengan mengalihkan fokus dari kendaraan listrik (EV) ke hybrid, bahkan menunda rencana pembangunan basis produksi EV di Kanada.