JAKARTA - Paris Saint-Germain dan Tottenham Hotspur kembali bertemu di panggung Eropa, kali ini di Parc des Princes pada fase liga Liga Champions. Duel Rabu 23 November ini mengulang drama UEFA Super Cup beberapa bulan lalu, yang dimenangi PSG lewat adu penalti. Bedanya, kali ini Spurs datang dengan energi yang lebih rapuh dan tekanan yang lebih besar.
PSG memasuki laga ini setelah kekalahan pertama mereka di Liga Champions musim ini, tumbang 1-2 dari Bayern Munchen dalam laga yang aneh—Bayern main dengan 10 orang sepanjang babak kedua, tapi tetap mampu mempertahankan keunggulan. Luis Diaz mencetak dua gol sebelum kartu merah akibat tekel brutal pada Achraf Hakimi, sebuah benturan yang masih membuat Hakimi absen sampai sekarang. Gol balasan PSG hadir lewat Joao Neves, tetapi tidak cukup untuk menyelamatkan rekor sempurna mereka.
Meski begitu, PSG tetap berada di jalur aman untuk lolos otomatis ke 16 besar. Posisi kelima dari 36 tim bukan sesuatu yang membuat panik, terlebih Les Parisiens tidak pernah menelan dua kekalahan kandang beruntun di Liga Champions sepanjang sejarah mereka. Respons usai kalah dari Bayern juga cukup meyakinkan: dua kemenangan beruntun di Ligue 1, termasuk kemenangan 3-0 yang bersih tanpa kontroversi atas Le Havre yang menjaga posisi mereka di puncak klasemen.
BACA JUGA:
Namun PSG versi musim ini tidak semonster musim lalu, ketika mereka menghancurkan Inter Milan di final. Beberapa pilar absen membuat mesin mereka kadang tersendat, tetapi kualitas kolektifnya tetap tidak bisa disepelekan.
Di kubu Tottenham, suasananya jauh lebih suram. Para fans Spurs meninggalkan Emirates lebih awal setelah Arsenal menggelar orkestra 4-1 yang membuat Spurs terlihat tidak siap. Hat-trick bersejarah Eberechi Eze—yang sempat diburu Tottenham pada bursa transfer—jadi simbol bahwa rencana Thomas Frank, khususnya skema defensif 5-2-3, hancur lebur tanpa perlawanan. Tekanan internal meningkat, dan kebingungan taktik mulai terasa.
Tapi menariknya, catatan Spurs di Liga Champions jauh lebih baik. Dua kemenangan dan dua imbang menjaga rekor tak terkalahkan mereka. Pertahanan mereka juga lebih solid di Eropa, mencatat lima clean sheet dari tujuh laga terakhir di semua level. Dua laga tandang UCL musim ini berakhir imbang, pertanda bahwa Spurs setidaknya sanggup tampil lebih disiplin ketika bukan bermain di Premier League.
Sayangnya, kondisi skuat Tottenham saat ini seperti novel tragedi. Brennan Johnson diskors akibat kartu merah kontra Copenhagen, sementara daftar cedera memanjang hingga level krisis: James Maddison, Radu Dragusin, Kota Takai, Dejan Kulusevski, Dominic Solanke, Yves Bissouma, dan beberapa lainnya tak tersedia. Peluang kembali Ben Davies bisa memberi sedikit napas, tetapi tidak banyak mengubah realitas.
PSG juga kehilangan banyak pemain, termasuk Hakimi, Ousmane Dembele, dan Desire Doue. Namun Bradley Barcola dan Khvicha Kvaratskhelia sudah kembali bugar dan siap tampil. Luis Enrique diperkirakan mengembalikan Fabian Ruiz dan Willian Pacho ke susunan utama, sementara Warren Zaire-Emery kemungkinan turun sebagai bek kanan darurat.
Tottenham mungkin mencoba bermain lebih agresif setelah pendekatan defensif mereka minggu lalu berantakan. Namun masalah utama Spurs musim ini adalah build-up play yang mudah dipatahkan tim dengan pressing tinggi. PSG yang tampil tanpa Dembele, Doue, dan Hakimi pun tetap memiliki cukup daya gedor untuk mengontrol laga dan mengunci kemenangan di Paris.
Pertandingan ini terasa seperti benturan antara klub yang sedang mencari ritme terbaik melawan klub yang sedang mencari identitas. Biasanya hanya satu yang selamat dalam keadaan seperti ini—dan untuk kali ini, PSG terlihat terlalu stabil untuk digulingkan.
Perkiraan susunan pemain PSG:
Chevalier; Zaire-Emery, Zabarnyi, Pacho, Mendes; Ruiz, Vitinha, Neves; Lee, Barcola, Kvaratskhelia
Perkiraan susunan pemain Tottenham:
Vicario; Porro, Romero, Van de Ven, Udogie; Palhinha, Sarr; Kudus, Simons, Richarlison; Kolo Muani
Prediksi: PSG 3-1 Tottenham Hotspur.