Bagikan:

JAKARTA - Bintang-bintang Spanyol, seperti Alexia Putellas dan Patri Guijarro, enggan menganggap diri mereka sebagai favorit juara menjelang final Euro Wanita 2025 melawan Inggris pada Minggu, 27 Juli 2025, malam WIB, di Basel.

Mereka menegaskan jika ada yang tertekan, itu adalah Tim Singa Betina.

Spanyol menang 1-0 ketika bertemu Inggris di final Piala Dunia 2023. Namun, Inggris akan menghadapi laga kali ini sebagai juara bertahan Euro Wanita setelah mengangkat trofi pada 2022, ketika mereka mengalahkan La Roja di perempat final.

Kedua tim juga bermain dua kali awal tahun ini di UEFA Nations League, dengan masing-masing tim memenangi satu pertandingan.

"Mereka adalah juara bertahan. Kami adalah dua tim yang hebat. Saya rasa kedua tim berada di final sudah sepantasnya. Ini akan menjadi final yang indah dan istimewa."

"Kami mengenal banyak pemain mereka dari klub sepak bola, tetapi kedua tim akan memberikan 200 persen dan jelas mengincar kemenangan," kata gelandang Guijarro di St. Jakob-Park, dilansir dari ESPN.

Rekan setimnya, Aitana Bonmati, menambahkan bahwa seluruh tekanan ada pada Inggris untuk mempertahankan gelar, sementara Putellas mengatakan pelatih Lionesses, Sarina Wiegman, seharusnya dianggap favorit karena ia menargetkan tiga gelar juara berturut-turut setelah memenangi Euro Wanita pada 2017 bersama Belanda.

"Saya rasa tidak ada tim favorit di final. Namun, saya telah mengatakan bahwa Sarina telah memenangi dua gelar (Euro Wanita) berturut-turut. Jadi, dia seharusnya menjadi favorit."

"Namun, sekarang, di final, tidak ada tim favorit. Detail sekecil apa pun dapat membuat perbedaan. Jadi, kami harus siap untuk itu."

"Yang terpenting, melawan kekuatan mereka dan mencoba memainkan permainan kami, yang kami tahu bisa kami lakukan," kata Putellas.

Spanyol dan Inggris adalah dua tim yang sama-sama gemar menguasai bola, dengan rata-rata penguasaan bola 72,1 persen dan 60,5 persen di partai-partai final sejauh ini.

Oleh karena itu, ada yang harus dikorbankan nanti. Guijarro mengatakan Spanyol siap menghadapi rencana permainan apa pun yang akan diterapkan Inggris, baik mereka berusaha mempertahankan penguasaan bola maupun mencoba bermain dengan serangan balik.

"Inggris suka menguasai bola lebih banyak. Kami mirip satu sama lain dalam hal itu. Namun, saya juga berpikir kami serupa dalam hal variabilitas dalam serangan balik, penguasaan bola di belakang pertahanan, pemain cepat."

"Mereka juga memiliki itu. Saya pikir yang menjadi ciri khas mereka di Euro Wanita 2025 ini adalah daya saing mereka."

"Apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mudah. Mereka pernah mengalami masa-masa sulit, tapi kepala dingin dan daya saing yang mereka miliki, menurut saya, telah membawa mereka ke final ini. Mereka pantang menyerah."

"Jadi, kami telah memahami (cara bermain Inggris). Kami melatih semuanya, (menghadapi) tekanan tinggi, tekanan sedang, tekanan rendah, dengan empat (di belakang) atau dengan lima (pemain)."

"Tim ini telah matang dalam hal membaca situasi itu dengan baik. Saya pikir salah satu hal tentang gaya bermain kami adalah kemampuan membaca ruang dan menafsirkannya," ujar Guijarro.

Guijarro lebih lanjut menyebut mantan rekan setimnya di Barcelona, Keira Walsh, yang sekarang bermain untuk Chelsea, sebagai ancaman terbesar dari Inggris.

"Anda sudah tahu semua hal baik yang ingin saya katakan tentangnya. Bagi saya, dia adalah pemain kunci Inggris, orang yang memberi makna pada permainan saat mereka menguasai bola."

"Mereka suka menguasai bola, seperti kami, dan Keira memahami sepak bola seperti saya," ujar Guijarro lagi.