Bagikan:

JAKARTA - Unit rock asal Jakarta, Black Horses, resmi menandai babak baru dalam perjalanan musikal mereka. Setelah sebelumnya melepas single "Tirani Tua" dan "Distorsi Menggema", band ini akhirnya merilis album ketiga mereka yang bertajuk “Jahanam”.

Berada di bawah naungan Firefly Records (anak perusahaan Musica Records), album ini menjadi torehan sejarah tersendiri bagi grup yang digawangi oleh Oscario (vokal), Kevin Indriawan (gitar), Lucky Azhary (bass), dan Julian Aditya (drum). Pasalnya, “Jahanam” merupakan album pertama Black Horses yang seluruh liriknya menggunakan bahasa Indonesia.

Kehadiran sosok John Paul Patton alias Coki (Kelompok Penerbang Roket, Ali, Portura) sebagai produser memberikan warna baru pada album ini. Coki tidak hanya duduk di balik layar, tetapi juga terlibat dalam penulisan beberapa lagu.

Secara musikalitas, “Jahanam” menawarkan eksplorasi classic rock yang terasa segar namun tetap memiliki kesan ‘kotor’ dan eksplosif. Lirik-liriknya sarat akan pesan satir yang tegas dan realistis, mencerminkan fenomena sosial yang terjadi di sekitar.

"Album ini adalah bentuk respon bagi para Kusir (sebutan fans Black Horses) dan pendengar kami untuk bisa lebih relate dengan apa yang kami rasakan belakangan ini, terutama situasi yang terjadi di sekitar kita, apapun konteksnya," ujar Oscario dalam keterangannya, Selasa, 19 Mei.

Album “Jahanam” berisi total 9 lagu. Dari deretan track yang tersedia, Black Horses memilih "Jejak Waktu" sebagai focus track. Lagu ini dianggap sebagai jembatan menuju kedewasaan musikalitas mereka tanpa harus kehilangan jati diri sebagai band rock.

Bersamaan dengan perilisan album, Black Horses juga meluncurkan video musik (MV) untuk "Jejak Waktu". Lewat karya visual ini, mereka seolah ingin menyampaikan pesan bahwa kekejaman tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata kasar.

Bagi para personel, “Jahanam” bukan sekadar kumpulan lagu baru. Lucky Azhary menyebut karya ini sebagai sebuah artefak waktu.

"Ini lebih dari sekadar album, ini adalah penanda zaman dari Black Horses untuk kita semua yang tinggal di Indonesia," tegas Lucky.

Sementara itu, dari sisi produksi, Coki mengakui adanya tantangan dalam menyelaraskan idealisme band dengan kebutuhan audiens.

"Tantangannya lebih ke output yang sama-sama kita inginkan secara idealis, tapi harus juga relate dengan audiens," tutur Coki.

Melalui album “Jahanam”, Black Horses ingin berbagi rasa tentang kebebasan dan keberanian dalam mengambil sikap. Mereka percaya bahwa apa yang diputuskan hari ini akan berdampak bagi generasi mendatang.

Saat ini, album “Jahanam” sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital. Bagi penikmat musik rock yang merindukan energi mentah dengan balutan lirik yang relevan, album ini menjadi menu yang wajib masuk ke dalam daftar putar.