Bagikan:

JAKARTA - Kuartet instrumental asal Bandung yang mengusung musik Priangan psychedelic groove, Basajan, kembali menghentak kancah musik independen dengan rilisan teranyar mereka yang bertajuk “1971”.

Menggandeng label rekaman Bahasa Ibu Records, nomor ini bukan sekadar komposisi musik biasa, melainkan sebuah perjalanan auditif yang kental dengan nuansa mistis yang dibalut dalam atmosfer magis budaya Sunda.

Secara naratif, “1971” menyimpan kisah ganjil tentang seorang pemuda desa yang terlempar ke dimensi lain.

Gitaris Basajan, Adhit, menjelaskan bahwa lagu ini terinspirasi dari fragmen cerita yang cukup surealis—tentang seorang pria muda kabupaten yang datang ke sebuah pasar malam, dan masuk ke dalam wahana rumah hantu.

“Kemudian pria tersebut merasakan hal mistis di dalam. Saat keluar dari rumah hantu, ia terjebak di tahun 1971 dan tak pernah bisa kembali,” kata Adhit dalam keterangannya, Jumat, 19 Desember.

Dalam proses kreatif, Basajan menggunakan daminatila—tangga nada karawitan Sunda—guna membangun ketegangan dunia lain.

Eksperimen ini semakin diperkuat dengan penggunaan birama 3/4 yang memberikan sensasi goyah, seolah pendengar sedang berjalan di atas kabut yang tebal.

Kehadiran sisipan vokal berupa pepatah Sunda di tengah lagu menambah kesan sakral sekaligus ganjil—menciptakan tensi naik-turun yang dramatis.

Adhit menambahkan, karya ini bukan sekadar perihal kegelapan, melainkan sebuah refleksi atas perjalanan spiritual manusia.

“’1971’ adalah petualangan melintasi dunia yang magis. Tidak hanya gelap, single ini juga memberikan kesan bahwa selalu ada akhir yang terang dan penuh kelegaan setelah melalui perjalanan panjang,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa lagu ini merupakan pengingat untuk tetap menghargai dimensi yang tak kasat mata.

“Lagu ini juga menjadi pengingat dan ajakan untuk menghormati dunia yang tidak terlihat, sekaligus menjadi refleksi bahwa manusia perlu kembali terhubung dengan insting, intuisi, dan tradisi leluhur sebagai bagian dari perjalanan batin,” pungkas Adhit.