Bagikan:

JAKARTA - Produksi teater musikal di Indonesia kembali menunjukkan eksistensinya dengan membawa narasi sejarah yang dibalut aransemen modern. ArtSwara, sebagai salah satu rumah produksi yang konsisten di jalur seni pertunjukan, mengumumkan pementasan ulang dari mahakarya mereka yang bertajuk “MAR”.

Setelah sukses dengan pergelaran sebelumnya, “MAR” yang mengangkat lagu-lagu legendaris karya Ismail Marzuki dijadwalkan kembali menyapa publik di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, pada 15-17 Mei mendatang.

Langkah ArtSwara untuk mementaskan kembali “MAR” bukan tanpa alasan kuat. Selain kesuksesan pada pementasan perdana di tahun 2025 yang berhasil memboyong penghargaan Album Musikal Terbaik dan Aransemen Vokal Terbaik pada ajang AMI Awards, tingginya permintaan penonton menjadi faktor kunci.

Maera selaku produser eksekutif sekaligus sutradara, mengungkap bahwa pementasan kali ini akan hadir dengan skala yang jauh lebih megah dan eksploratif.

“’MAR’ dipentaskan kembali karena secara pribadi merasa belum puas atas pertunjukan sebelumnya, hingga ingin mempersembahkan kembali dengan sejumlah peningkatan di berbagai aspek pertunjukan,” kata Maera dalam keterangannya, Senin, 4 Mei.

“Selain itu, memang menjawab keinginan publik untuk ‘MAR’ kembali dipentaskan. Pergelaran kali ini menambah enam tambahan casting,” tambahnya.

Secara naratif, “MAR” membawa penonton menyelami memori seorang tokoh bernama Nin. Cerita berfokus pada hubungan emosional antara Mar, seorang prajurit tangguh yang diperankan oleh Gabriel Harvianto, dan Aryati, sukarelawati medis yang diperankan oleh Galabby.

Keduanya terjebak dalam pusaran peristiwa Bandung Lautan Api—sebuah fragmen sejarah di mana cinta harus berbenturan dengan kewajiban bela negara dan pengorbanan yang memilukan.

Sisi musikal menjadi kekuatan utama dalam produksi ke-13 ArtSwara ini. Di bawah arahan direktur musik Dian HP, lagu-lagu abadi karya Ismail Marzuki tidak sekadar dinyanyikan ulang, melainkan diinterpretasikan dengan sentuhan jazz yang dinamis.

Aransemen tersebut dirancang untuk membangkitkan nuansa era Glen Miller yang populer pada masa perjuangan kemerdekaan. Pada edisi kali ini, Ava Victoria didapuk untuk memimpin orkestrasi yang akan mengiringi jalannya drama.

Eksplorasi ini merupakan upaya ArtSwara untuk menjaga agar warisan budaya tetap relevan bagi generasi muda. Maera menegaskan, karya Ismail Marzuki adalah jembatan lintas generasi yang memiliki nilai artistik sangat tinggi.

“ArtSwara mempersembahkan ‘MAR’ tidak hanya sebagai penghormatan kepada sang jenius Ismail Marzuki tetapi juga sebagai eksplorasi terobosan dalam dunia teater musikal,” tutur Maera. “Dengan memperkenalkan kembali karya-karya Marzuki melalui narasi baru yang segar dan inovatif, produksi ini memastikan warisannya tetap relevan bagi audiens yang lebih luas.”

Kehadiran nama-nama besar seperti Tanta Ginting, Teza Sumendra, Sita Nursanti, hingga Chandra Satria dipastikan akan menambah kedalaman karakter dalam pementasan ini.

Dari sisi teknis, tim produksi menjanjikan tata suara yang lebih prima serta rancangan panggung istimewa yang akan menghidupkan suasana Bandung di tahun 1946 secara lebih nyata.

Senada dengan Maera, Produser MAR Rr. Firsty Dewi menekankan pentingnya membangun ekosistem seni pertunjukan yang sehat di Indonesia. Menurutnya, teater musikal memiliki potensi besar untuk menjadi hiburan arus utama yang edukatif.

“ArtSwara punya visi dan misi yang cukup jauh dan besar, yaitu membangun ekosistem musikal besar di Indonesia, untuk dapat menarik generasi muda agar dapat mengenal dan lebih jauh mencintai seni pertunjukan musikal,” pungkas Firsty.