JAKARTA - Di Amerika Serikat, industri musik Natal bukan sekadar perayaan budaya, melainkan bisnis raksasa yang bisa menghasilkan lebih dari 177 juta dolar AS per tahun.
Namun, di balik angka yang menggiurkan tersebut, terdapat persaingan yang sangat ketat dan terkonsentrasi.
Menurut data dari Luminate, royalti musik Natal cenderung terkumpul pada segelintir lagu hits legendaris.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2023, 50 lagu Natal teratas menguasai 35 persen dari seluruh total streaming lagu liburan.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan genre pop, di mana 50 lagu teratasnya hanya mencakup 12 persen dari total streaming.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam musik Natal, pilihannya hanya dua: menjadi sangat populer seperti Michael Bublé atau Mariah Carey, atau tenggelam dalam ribuan lagu lainnya.
Guy Moot selaku CEO Warner Chappell Music mengatakan, menulis lagu Natal hit baru adalah sebuah misi yang sangat sulit. Masyarakat cenderung mencari nostalgia saat musim liburan, sehingga lagu-lagu lama tetap mendominasi.
BACA JUGA:
"Menulis hit Natal kontemporer yang baru adalah salah satu hal tersulit, itu seperti mencari cawan suci (holy grail),” kata Moot, mengutip kanal YouTube Billboard, Jumat, 19 Desember.
“Orang-orang menginginkan nostalgia. Anda tumbuh dengan lagu-lagu itu, memutarnya untuk anak-anak Anda, dan itulah simbol Natal bagi mereka," tambahnya.
Meskipun demikian, potensi royalti jangka panjang yang stabil menjadikan penulisan lagu Natal tetap menarik bagi para musisi.
Kenyataannya, industri tidak berhenti mencoba. Warner Chappell bahkan baru-baru ini menggelar kamp penulisan lagu (songwriting camp) yang melibatkan 50 penulis lagu untuk menciptakan album kompilasi Natal baru.
Langkah ini diambil bukan sekadar mengejar posisi bagan lagu, melainkan untuk mengincar peluang sinkronisasi dalam iklan dan kampanye film yang permintaannya selalu melonjak di akhir tahun.