Bagikan:

JAKARTA - Era streaming telah mengubah cara dunia mengonsumsi musik liburan, seperti lagu-lagu Natal. Jika dulu audiens terbatas pada koleksi piringan hitam atau CD yang mereka miliki, kini algoritma dan kurasi playlist digital mampu membangkitkan lagu-lagu lama yang sempat terlupakan, bahkan lagu-lagu yang dianggap aneh atau bersifat parodi.

Carianne Marshall selaku COO Warner Chappell Music menyoroti bagaimana lagu-lagu seperti "Dominic the Donkey" atau "I Want a Hippopotamus for Christmas" kini muncul kembali di berbagai daftar putar utama.

Menurutnya, akses tak terbatas pada database musik membuat lagu-lagu yang dulunya hanya populer di wilayah tertentu, kini bisa menjadi konsumsi global.

"Lagu-lagu ini ditarik kembali dari antah berantah untuk ditambahkan ke daftar putar,” kata Marshall, melansir kanal YouTube Billboard, Jumat, 19 Desember.

“Mungkin itu terjadi 10 tahun lalu, siapa yang tahu kapan, tapi yang pasti lagu-lagu itu tidak ada dalam daftar klasik yang asli dulu," tambahnya.

Menariknya, perbedaan budaya antara Inggris dan Amerika Serikat juga menciptakan "benturan" hit Natal yang unik.

Di Inggris, lagu-lagu dari era glam rock 1970-an seperti milik Slade dan Wizzard adalah lagu wajib pesta kantor. Sementara di AS, lagu-lagu tersebut nyaris tak terdengar.

Namun, berkat platform media sosial seperti TikTok, sekat geografis ini perlahan runtuh dan lagu-lagu tersebut menemui pendengar baru.

CEO Warner Chappell, Guy Moot, menambahkan bahwa kekuatan lagu Natal terletak pada stabilitas ekonominya. Meski hanya diputar satu bulan dalam setahun, pendapatannya sangat dapat diprediksi.

"Jika Anda melihat nilai ekonomi dari sebuah lagu, lagu Natal adalah permata yang sangat berharga. Pendapatannya sangat konsisten dan stabil setiap tahun, sama pastinya dengan kedatangan hari Natal itu sendiri," ujar Moot.

Tren ini menunjukkan bahwa di masa depan, kesuksesan lagu Natal tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas vokal, melainkan seberapa kuat lagu tersebut mampu memicu nostalgia atau justru menjadi viral melalui kurasi algoritma di media sosial.