Bagikan:

JAKARTA - Fenomena berulang selalu terjadi pada bulan Desember, di mana lagu-lagu Natal (Christmas song) seperti "Last Christmas" dari Wham! atau "All I Want for Christmas Is You" dari Mariah Carey tetap relevan puluhan tahun setelah dirilis.

Menariknya, banyak lagu Natal terbesar sebenarnya bersifat non-denominasional dan tidak ditulis untuk kepentingan peribadahan umat Kristiani.

Lagu-lagu seperti "Let It Snow" atau "Winter Wonderland" lebih fokus membangkitkan perasaan musiman daripada ritual keagamaan, yang membuat jangkauan pendengarnya jauh lebih luas dan inklusif

“Lagu-lagu Natal terbesar sebenarnya tidak bersifat denominasional,” kata Carianne Marshall, COO Warner Chappell Music, mengutip kanal YouTube Billboard, Jumat, 19 Desember.

“Apakah Anda memikirkan ‘Winter Wonderland’, Anda tahu, judulnya bahkan tidak mengandung kata Natal sama sekali. Lagu-lagu itu hanya membangkitkan perasaan, dan menurut saya itu sangat menarik,” tambah Marshall.

Adapun salah satu pilar ekonomi utama musik Natal adalah lisensi untuk iklan dan film. Tim synchronization biasanya mulai bekerja jauh-jauh hari, bahkan sejak musim panas, untuk mendapatkan penjelasan mengenai iklan Natal.

Terkadang, sebuah lagu non-Natal seperti "What a Wonderful World" atau "Hallelujah" bisa menjadi ‘lagu liburan’ karena sering digunakan dalam kampanye akhir tahun.

Selain itu, teknik sederhana seperti menambahkan instrumen sleigh bells (lonceng kereta salju) pada lagu pop biasa seringkali dilakukan agar lagu tersebut bisa dipasarkan sebagai lagu tema liburan

Bagi penulis lagu, memiliki satu hit Natal yang sukses berarti memiliki penghasilan yang sangat konsisten setiap tahunnya.

Meski hanya melonjak saat bulan Desember, pendapatan ini sangat dapat diprediksi seperti datangnya hari Natal itu sendiri. Inilah yang membuat katalog lagu Natal menjadi aset yang sangat berharga dalam industri musik modern.