Bagikan:

JAKARTA - Grup musik asal Amsterdam dengan akar keturunan Indonesia, Nusantara Beat, secara resmi melepas album penuh perdana dengan tajuk sama dengan nama grup.

Selain tersedia dalam format digital, album self-titled Nusantara Beat juga tersedia dalam piringan hitam long play (LP), dimana distribusi di kawasan Asia Tenggara bekerjasama dengan label rekaman demajors.

Peluncuran album ini menandai perluasan visi musikal yang dibangun Nusantara Beat, menyusul serangkaian penampilan mereka yang semakin diapresiasi.

Di tengah gempuran musik global, koleksi 11 lagu orisinal dalam album ini justru menawarkan sebuah perjalanan sonik yang berakar jauh ke dalam keanekaragaman budaya Indonesia.

Nusantara Beat dengan lihai menyandingkan harmoni folk yang memesona, nuansa Indo-pop lawas, groove psikedelik yang memabukkan, dan lapisan tekstur suara kontemporer yang terasa segar.

Bagi enam personelnya, nama “Nusantara” memegang peranan krusial sebagai fondasi identitas. Seluruh anggota band—Megan De Klerk (vokal), Jordy Sanger (gitar), Rouzy Portier (gitar, kibor), Michael Joshua Yonata (bas), Sonny Groeneveld (drum), dan Gino Groeneveld (perkusi)—diketahui memiliki garis keturunan Indonesia meskipun mereka adalah warga negara Belanda.

“Nusantara berarti seluruh kepulauan Indonesia. Sebuah kata kuno yang berasal dari masa ketika para raja berusaha menyatukan seluruh kerajaan kepulauan. Saat ini, Nusantara tetap berarti persatuan, keberagaman budaya yang bersatu dalam satu identitas. Jadi, ketika kami menyebut Nusantara Beat, hal itu bermakna irama dan musik dari seluruh kepulauan Indonesia yang dipadukan menjadi satu suara,” tutur De Klerk melalui siaran pers kepada VOI, Senin, 1 Desember.

Adapun, Nusantara Beat lahir dari kancah musik Amsterdam yang ramai, dimana para anggotanya sebelumnya aktif di grup-grup lain. Namun, kerinduan kolektif dan dorongan untuk mendalami bunyi-bunyian Indonesia menjadi benang merah utama pembentukannya.

“Band ini terbentuk dari kecintaan kami terhadap akar Indonesia dan rasa ingin tahu untuk menggali lebih dalam melalui musik,” ujar Groeneveld.

Sebelum merilis karya orisinal, Nusantara Beat memulai debut panggung di Amsterdam pada pertengahan 2022 dan merilis tiga single interpretasi lagu klasik Indonesia abad ke-20 yang menuai pujian: “Djanger” (2023), “Kota Bandung” (2023), dan “Mang Becak” (2024).

Menariknya, dua dari tiga nomor tersebut merupakan penghormatan terhadap musik pop Sunda—jenis musik yang mengakar dari musik tradisional Sunda yang diperkaya unsur psikedelik, surf, dan funk tahun 1960-an hingga 1970-an.

“Musik dan artis dari era itu sangat dipengaruhi genre pop Barat,” kata Portier. “Mereka ingin terdengar seperti idola mereka dengan menggunakan peralatan dan efek yang serupa. Gaya ini dan perpaduannya tetap terasa segar dan relevan hingga hari ini.”

Kini, Nusantara Beat mantap memposisikan diri sebagai komunitas musik yang berani merevitalisasi musik Indonesia, khususnya pop Sunda, dengan sentuhan modern melalui teknik produksi yang jernih, penggunaan synthesizer kontemporer, dan groove yang dalam.

Dengan sebelas lagu orisinal yang kokoh, mereka membuktikan bahwa musik mereka berakar kuat pada tradisi, namun melangkah penuh keberanian dan kreativitas.

“Untuk album ini, kami tetap memusatkan perhatian pada tradisi musik Sunda dan skala pelog gamelan,” pungkas Yonata.